.

.

Muhammad : 7

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik [Al-Imran : 110]

As-Shof : 4

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.[As-Shof : 4]

Bergerak atau Tergantikan

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Hidup Mulia atau Mati Syahid

Ketika Kau Lahir di Dunia dengan Tangisan, Dunia Gembira Riang Menyambutmu. Ketika Kau Gugur sebagai Pahlawan, Dunia Mengangisimu, Namun Ruhmu gembira menyambut Syurga-Nya

Kita adalah Penyeru

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik [Al-Imran : 110]

Minggu, 05 Juni 2011

Selamat Tinggal Rohisku

Sebuah perasaan yang amat membingungkan yang kini kita rasakan. Sebuah dilema dalam diri ini yang semakin hari, semakin membingungkan. Hanya Allah saja yang dapat menenangkan hati ini.

Bismillahirrohmanirrohim.
Subhanallah, akhirnya Ana dapat menghirup nafas lega setelah kabar kelulusan itupun menghampiri. Ya benar, Ana sangat senang karena Ana dapat lulus sekolah tingkat SMA dengan hasil keringat sendiri yang telah ditempa selama tiga tahun silam. Bukan dengan cara-cara yang diharamkan oleh Allah untuk menggapai sebuah nilai “kelulusan” dengan mudah, tentu saja “bocoran”. Tapi Ana menghindari itu semua, karena Ana yakin bahwa “Allah akan menolong Hamba-hambanya yang menolong Agama-Nya”. Sungguh sebuah perjalanan hidup yang sangat menyenangkan. Namun ada lagi sebuah perjalanan Ana yang sangat luar biasa. Perjalanan hidup yang hanya didapatkan oleh orang-orang terpilih langsung dari Sang Pencipta. Ya benar sekali, disanalah Ana menemukan Arti Sebuah Kehidupan di masa muda zaman modern seperti ini. Disaat banyak remaja yang tergiur oleh buaian duniawi yang hanya “fana” semata. Dan disana Ana ditempa menjadi seorang Pemuda yang sesungguhnya. Yaitu pemuda harapan Ummat ini.
Sebuah wadah yang penuh dengan kenangan, penuh dengan pengalaman, penuh dengan cobaan, dan penuh dengan tanggung jawab. Itulah Rohis (Rohani Islam). Tempat pertama kali Ana bermuara dalam indahnya kata “Perjuangan” yang sebenarnya. Disana Ana ditempa menjadi seorang Pemuda yang sebenarnya. Tidak hanya memikirkan Akademik semata yang dilakukan oleh Pelajar umumnya, namun Ana ditempa menjadi seorang Pelajar yang berakademik baik sekaligus membentuk akhlak yang bai pula. Dan yang tidak ketinggalan lagi, disini Ana dibentuk untuk menjadi “Penyeru” dalam kebaikan, kebenaran, yaitu Penyeru dalam “Kebaikan”. Itulah Dakwah Sekolah.

Sungguh luar biasa mereka semua. Disaat orang lain sedang sibuk-sibuknya dalam menggapai kesenangan duniawi, mengejar akademik, menjalin percintaan yang diharamkan, berfoya-foya, dan sebagainya, namun kita dibentuk untuk memperbaiki diri sendiri sekaligus memperbaiki orang lain juga. Memikirkan orang lain juga. Dan Ana yakin sekali suatu hari nanti mereka semua akan menjadi Pemimpin yang luar biasa. Menjadi orang-orang yang akan membentuk Moral sebuah bangsa ini kedepannya. Minimal pemimpin untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Karena mereka semua adalah orang-orang spesial yang pernah Ana kenal.

Di awal memasuki pintu “Gerbang Dakwah Sekolah” itulah Ana merasakan sesuatu yang berbeda. Menemukan banyak teman-teman dan sahabat-sahabat perjuangan yang sebenarnya. Yaitu yang selalu menegur kita saat dalam kemaksiatan, kesalahan, dan khilaf. Dan juga mengajak kita selalu dalam menempa diri menjadi Muslim Sejati. Mengajak kita untuk selalu memperbaiki diri ini yang kotor berlumur banyak dosa-dosa. Subhanallah.. Masih terbesit dalam memoriku saat mereka mengirim SMS Tausyiah yang menggelorakan jiwa untuk untuk bangkit menuju kebaikan dan berlomba-lomba menggapai Ridho-Nya.

Ya. Masih sangat terbesit dan sepertinya takkan terlupakan begitu saja saat kita membuat sebuah acara di Rohis itu. Saat kita menyusun sebuah konsep acara bersama, syuro, diskusi, membentuk kepanitiaan, menyebar proposal, dan menjadi panitia saat hari “H”. Terkadang banyak ide-ide yang bentrok antar panitia. Terutama antar panitia ikhwan dengan akhwat. Masih sangat terbesit dalam memori ini saat gagasa menolak atau merubah konsep yang sangat kontradiksi antar kita. Sampai-sampai ada juga yang kecewa, menangis, sedih, dan sakit hati. Namun setelah itu, kami belajar sebuah arti kedewasaan dalam kehidupan ini. Saling memaafkan dan memahami adalah sebuah kata kunci untuk itu. Alhamdulillah Ya Allah.

Ya. Sesuai target kita, banyak anak-anak Rohis yang mendapat juara kelas, nilai yang memuaskan, ikut Olimpiade, OSN, anak kesayangan guru, teladan kelas, dan sebagainya. Itulah kita, pemuda-pemudi Islam yang Cerdas dan Berakhlak baik. Tak jarang banyak diantara kita yang mendapat penghargaan baik dari sekolah kita. Subhanallah Ana menumak jalan yang benar saat masa muda Ana. Menempa diri menjadi Pemuda-Pemudi Islam sejati.

Suatu ketika, kabar yang pasti kan datang tiba juga. Sebuah takdir yang telah Allah tetapkan. Bahwa jika ada Siang, akan ada Malam yang menggantikannya. Jika ada hari Senin, akan datang hari Selasa. Begitu seterusnya roda kehidupan ini. Jika ada sebuah pertemuan, pastilah ada sebuah perpisahan yang kan terjadi. Itulah yang akan kita hadapi. Dan kini telah terjadi kawanku. Ana sangat sedih saat perpisahan itu datang karena harus menginggalkan sekolah tercinta yang merupakan sebuah Ladang Amal kita untuk mencari Ridho-Nya. Juga sangat sedih saat menginggalkan sebuah wadah yang dahulu Ana diajarkan tentang menemui arti sebuah kehidupan di masa belia ini. Akhirnya perpisahan itu memaksa kita untuk berpisah terhadap teman-teman dan sahabat-sahabat perjuangan kita di Rohis selama ini. Yang penuh dengan senyuman, canda, tawa, keseriusan, kadang pula ada duka yang menghampiri.

Inilah sebuah dilema dalam diri Ana yang masih terbesit hingga sekarang. Antara senang dan sedih. Senang karena akan terjun baru dalam dunia Dakwah Kampus, yang mempunyai tantangan luar biasa dan akan bertemu juga dengan orang-orang yang luar biasa. Namun disisi lain sedih. Sedih karena harus meninggalkan Rohis. Bukannya Ana sedih karena hal duniawi kawanku. Namun karena Ana sedih, bagaimana dengan Kaderisasi dan Pembinaan akan Rohis kedepannya? Disaat banyak Alumni yang sudah semakin goyang dalam kancahnya untuk menjadi Aktifis Dakwah Sekolah ini karena kesibukan mereka diluar sana. Terlebih lagi saat kita mendapat Pendidikan Kuliah di luar daerah sana yang jauh. Sedih karena khawatir tidak dapat mengontrol adik-adik perjuangan kita di Rohis. Sedih karena ada sebuah pertanyaan besar  “Bagaimana Rohis ke-Depannya?” Sedih karena takut, Ana futur dipertengahan Jalan ini. Memang saat awal-awalnya mempunyai semangat yang membara dan menggebu-gebu, namun saat dipertengahan bahkan akhirnya bagaimana?

Ya. Memang benar masih ada teman perjuangan kita yang masih ada disana. Namun apakah itu dapat bertahan lama jika dia seorang diri untuk mengurusi sebuah amanah yang sangat luar biasa? Jika dia futur, siapa yang menggantikan? Sementara kita hanya melihat dan asyik dalam dunia kampus saja. Hanya sebuah sokongan yang dapat Ana berikan, yaitu Do’a Rabithoh untuk menguatkan hati-hati kita dalam perjuangan ini. Dan semoga kita semua menjadi Agent of Leader yang membentok Moral Bangsa ini kedepannya. Walaupun melalui sebuah wadah bernama Rohis.

Sedih hati ini saat mengatakan “Selamat Tinggal Rohisku, Selamat Tinggal Sahabatku”.


>>Milisi Thulaby

Jumat, 20 Mei 2011

Si Belang, Si Botak, dan Si Buta yang Diuji Allah

 Zaman dahulu kala, ada tiga orang Bani Israil. Orang yang pertama berkulit belang (sopak), yang kedua berkepala botak, dan yang ketiga buta. Allah ingin menguji ketiga orang tersebut. Maka Dia mengutus kepada mereka satu malaikat.
Malaikat mendatangi orang yang berpenyakit sopak (Si Belang) dan bertanya kepadanya, “Sesuatu apakah yang engkau minta?”
Si Belang menjawab, “Warna yang bagus dan kulit yang bagus serta hilangnya dari diri saya sesuatu yang membuat orang-orang jijik kepada saya.”
Lalu malaikat itu mengusapnya dan seketika itu hilanglah penyakitnya yang menjijikkan itu. Kini ia memiliki warna kulit yang bagus. Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Harta apa yang paling engkau sukai?”
Orang itu menjawab, “Onta.”
Akhirnya orang itu diberikan seekor onta yang bunting seraya didoakan oleh malaikat, “Semoga Allah memberi berkah untukmu dalam onta ini.”
Kemudian malaikat mendatangi si Botak dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling engkau sukai?”
Si Botak menjawab, “Rambut yang indah dan hilangnya dari diri saya penyakit yang karenanya aku dijauhi oleh manusia.”
Malaikat lalu mengusapnya, hingga hilanglah penyakitnya dan dia diberi rambut yang indah. Malaikat bertanya lagi, “Harta apa yang paling engkau sukai?”
Orang itu menjawab, “Sapi.”
Akhirnya si Botak diberikan seekor sapi yang bunting dan didoakan oleh malaikat, “Semoga Allah memberkahinya untukmu.”
Selanjutnya malaikat mendatangi si Buta dan bertanya kepadanya, “Apa yang paling engkau sukai?”
Si Buta menjawab, “Allah mengembalikan kepada saya mata saya agar saya bisa melihat manusia.”
Malaikat lalu mengusapnya hingga Allah mengembalikan pandangannya. Si Buta bisa melihat lagi. Setelah itu malaikat bertanya lagi kepadanya, “Harta apa yang paling engkau sukai?”
Orang itu menjawab, “Kambing.”
Akhirnya diberilah seekor kambing yang bunting kepadanya sambil malaikat mendoakannya.
Singkat cerita, dari hewan yang dimiliki ketiga orang itu beranak dan berkembang biak. Yang pertama memiliki satu lembah onta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.
Kemudian sang malaikat – dengan wujud berbeda dengan sebelumnya – mendatangi si Belang. Malaikat berkata kepadanya, “Seorang miskin telah terputus bagiku semua sebab dalam safarku, maka kini tidak ada bekal bagiku kecuali pertolongan Allah kemudian dengan pertolongan Anda. Saya memohon kepada Anda demi (Allah) Yang telah memberi Anda warna yang bagus, kulit yang bagus, dan harta, satu ekor onta saja yang bisa menghantarkan saya dalam safar saya ini.”
Orang yang tadinya belang itu menanggapi, “Hak-hak orang masih banyak.”
Lalu malaikat bertanya kepadanya, “Sepertinya saya mengenal Anda. Bukankah Anda dulu berkulit belang yang dijauhi oleh orang-orang dan juga fakir, kemudian Anda diberi oleh Allah?”
Orang itu menjawab, “Sesungguhnya harta ini saya warisi dari orang-orang tuaku.”
Maka malaikat berkata kepadanya, “Jika kamu dusta, maka Allah akan mengembalikanmu pada keadaan semula.”
Lalu, dengan rupa dan penampilan sebagai orang miskin, malaikat mendatangi mantan si Botak. Malaikat berkata kepada orang ini seperti yang dia katakan kepada si Belang sebelumnya. Ternyata tanggapan si Botak sama persis dengan si Belang. Maka malaikat pun menanggapinya, “Jika kamu berdusta, Allah pasti mengembalikanmu kepada keadaan semula.”
Lalu malaikat – dengan rupa dan penampilan berbeda dengan sebelumnya – mendatangi si Buta. Malaikat berkata kepadanya, “Seorang miskin dan Ibn Sabil yang telah kehabisan bekal dan usaha dalam perjalanan, maka hari ini tidak ada lagi bekal yang menghantarkan aku ke tujuan kecuali dengan pertolongan Allah kemudian dengan pertolongan Anda. Saya memohon kepada Anda, demi Allah yang mengembalikan pandangan Anda, satu ekor kambing saja supaya saya bisa meneruskan perjalanan saya.”
Maka si Buta menanggapinya, “Saya dulu buta lalu Allah mengembalikan pandangan saya. Maka ambillah apa yang kamu suka dan tinggalkanlah apa yang kamu suka. Demi Allah aku tidak keberatan kepada kamu dengan apa yang kamu ambil karena Allah.”
Lalu malaikat berkata kepadanya, “Jagalah harta kekayaanmu. Sebenarnya kamu (hanyalah) diuji. Dan Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada dua sahabatmu.”
***
Demikianlah kisah ini, Allah senantiasa menguji hamba-hamba-Nya, dan kita pun senantiasa diuji oleh-Nya. Dalam kisah tadi, ada dua hal yang menjadi bahan ujian, yaitu kesehatan, penampilan fisik, dan harta. Mudah-mudahan kita adalah yang orang yang lulus ujian sebagaimana si Buta. Jika kita ingin seperti si Buta, maka kita harus berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang bersyukur dan senantiasa merasakan adanya pengawasan Allah (muraqabatullah).
Semoga Allah senantiasa ridha dan tidak murka kepada kita semua.. Aamiin.
Maraji’: Hadits Riwayat Bukhari – Muslim
(hudzaifah/hdn)

Juang Cinta Para Wanita

 “Wahai Abu Utsman,” kata perempuan itu, “Sungguh aku mencintaimu.”
Suasana hening sejenak. “Aku memohon, atas nama Allah, agar sudilah kiranya engkau menikahiku,” lanjutnya.
Lelaki yang bernama lengkap Abu Utsman An Naisaburi itu diam. Ada keterkejutan dan kegamangan dalam dirinya tatkala mendengar perkataan perempuan yang datang kepadanya itu. Ia tidak mengenal perempuan ini dengan baik. Namun, tiba-tiba saja perempuan ini datang menemuinya dan menyatakan rasa cintanya yang dalam kepadanya. Bahkan saat itu pula, atas nama Allah, perempuan itu meminta pada Abu Utsman untuk menikahinya. Seakan keterkejutan yang dirasakan Abu Utsman bertumpuk-tumpuk di atmosfir hatinya.
Abu Utsman diam. Memikirkan keputusan apa yang hendak diambilnya. Sebagai seorang pemuda, ia dihadapkan pada sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Sebuah keputusan yang mungkin akan dijalaninya selama lebih dari separuh usianya dan separuh imannya. Selama ini keluarganya senantiasa mendorongnya untuk segera meminang salah seorang perempuan shalihah di wilayah itu. Namun, ia selalu menolak dorongan dari keluarganya itu hingga hari ini. Maka, sampai sekarang ia masih juga membujang. Ia akan mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya, termasuk segala konsekuensi yang menyertainya.
Imam Abul Faraj Abdurahman ibnu Al Jauzi menuliskan dalam salah satu kitabnya, Shaidul Khathir, bahwa Abu Utsman kemudian datang ke rumah si perempuan. Ia mendapati orangtua si perempuan adalah orang yang miskin. Namun, keputusannya tetaplah bulat untuk meminang si perempuan yang datang menyatakan cinta kepadanya itu. Terlebih lagi karena perempuan itu memintanya untuk menikahinya. Ia menyaksikan kebahagiaan yang berlimpah pada orangtua si perempuan mendengar bahwa putrinya dipinang oleh Abu Utsman, lelaki yang berilmu, tampan, shalih, penyabar, setia, jujur, tulus, dan terhormat.
Mereka pun menikah. Hingga akhirnya sang istri itu meninggal dunia lima belas tahun kemudian. Namun, sejak malam pengantin mereka ada kisah yang baru terungkap setelah kematian sang istri. “Ketika perempuan itu datang menemuiku,” kisahnya, “Barulah aku tahu kalau matanya juling dan wajahnya sangat jelek dan buruk. Namun, ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.”
Ah, kita jangan marah pada Abu Utsman yang mengharapkan istri yang cantik dan sempurna, tapi kemudian hanya mendapatkan istri juling dan buruk wajah. Itu merupakan sisi manusiawi dari lelaki yang menginginkan kecantikan dan kesempurnaan dari pendamping hidupnya. “Begitulah kulalui lima belas tahun dari hidupku bersamanya hingga dia meninggal,” lanjutnya berkisah. “Maka, tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain masa-masa lima belas tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya dan ketulusan cintanya.” Kesetiaan itu adalah bintang di langit kebesaran jiwa, kata Anis Matta.
Sungguh, saya sangat kagum dengan sepasang suami istri ini. Meskipun cinta di antara mereka tidak pernah benar-benar ada dalam masa-masa lima belas tahun perkawinan itu, tapi perjuangan cinta si perempuan sangat luar biasa di mata saya. Meskipun sang perempuan itu tahu bahwa ia bermata juling, meskipun ia tahu bahwa ia hanya anak orang miskin, meskipun ia tahu bahwa ia bukan perempuan berwajah cantik satin, tapi ia memperjuangkan cintanya untuk membersamai orang yang dicintainya itu. Ia berhasil membersamainya dalam masa lima belas tahun hingga maut datang menjemput. Ia memang tidak tahu bahwa selama masa itu sang suami, Abu Utsman An Naisaburi, tidak pernah benar-benar mencintainya. Namun, Abu Utsman membuktikan bahwa ia adalah lelaki yang setia, tulus, sabar, dan senantiasa menjaga perasaan sang istri yang demikian tulus mencintainya. Bagi saya, semua hal itu adalah bagian dari cintanya, hanya saja bentuknya yang sedikit berbeda. Sungguh, saya sangat kagum dengan sepasang suami istri ini. Semua bermula tatkala si perempuan itu menyatakan dan memperjuangkan cintanya.
Ada pula kisah lain dari shahabiyah Rasulullah. Namanya Khansa’ binti Khaddam Al Anshariyah. Ia adalah salah seorang perempuan Madinah dari Bani Aus yang berstatus janda. Khaddam, sang ayah Khansa’, mengawinkannya dengan seorang lelaki yang juga berasal dari Bani Aus. Namun, ia tidak menyukai lelaki itu dan sebenarnya ia telah menyukai lelaki lain. Maka, berangkatlah Khansa’ menemui Rasulullah. Ia menceritakan kasus perselisihannya dengan sang ayah dan mengutarakan hasrat hatinya bahwa ia mencintai lelaki lain itu. Rasulullah pun memanggil sang ayah dan memerintahkan kepadanya untuk memberikan kebebasan kepada putrinya dalam memilih calon suaminya sendiri.
“Sesungguhnya,” tutur para imam hadits dalam kitab mereka, “Ayahnya menikahkan dia, sedangkan dia seorang janda maka ia tidak suka pernikahan itu, kemudian datang kepada Rasulullah. Maka Rasulullah menolak pernikahannya.” Hanya Imam Muslim yang tidak mencatat riwayat dari Khansa’ binti Khaddam Al Anshariyah ini.
Khansa’ binti Khaddam Al Anshariyah pun memilih. Ia memutuskan untuk meninggalkan perkawinan paksaan sang ayah dan menginginkan dinikahi oleh orang yang dicintainya. Dalam Shahifah Amru bin Syaibah, disebutkan bahwa lelaki itu terlebih dahulu meminang Khansa’ dan sudah diterima Khansa’. Nama lelaki itu adalah Abu Lubabah bin Abdil Mundzir. Ia adalah salah seorang sahabat utama yang menghadiri Bai’atul Aqabah kedua, ia adalah wakil Rasulullah di Madinah saat Perang Badar untuk menjaga keamanan dan ketertiban penduduk kota Madinah, anak-anak, kaum perempuan, kebun buah-buahan. Ia juga ditugasi untuk memberi makanan pada warga yang kelaparan dan memenuhi kebutuhan semua warga yang ada, baik anak-anak maupun orang tua sampai pasukan yang berada di jalan Allah itu kembali. Dengan lelaki mulia inilah Khansa’ menjatuhkan pilihannya, ia menikah dengan lelaki yang dicintainya. Ia menikah dengan lelaki yang diperjuangkannya hingga melibatkan keputusan Rasulullah atas pemaksaan sang ayah. Dari pernikahan mereka itu lahirlah seorang perempuan bernama Lubabah.
Pada Khansa’ binti Khaddam Al Anshariyah pula kita berterimakasih atas pelajaran penting tentang larangan pemaksaan menikah dari orang tua jika sang putri tidak menyukai calon suaminya. Dari Khansa’ pula kita belajar tentang hak-hak perempuan dalam syariat Islam dan menjalankan hidupnya sebagai bagian dari sistem struktur masyarakat madani. Semua bermula tatkala si perempuan itu menyatakan dan memperjuangkan cintanya.
Kisah hidup perempuan paling mulia di zamannya pun melakoni episode perjuangan cinta ini.
“Sebenarnya ia orang biasa,” kata perempuan mulia itu. Dr Thaha Husain menuliskan fragmen ini dalam saduran kisahnya yang dinukil oleh Saefulloh Muhammad Satori dalam Romantika Rumah Tangga Nabi. Perempuan mulia ini bernama Khadijah binti Khuwailid. Sedangkan orang yang dibicarakannya adalah Muhammad bin Abdullah yang kala itu berusia sekitar dua puluh lima tahun. “Saya kenal ibunya. Saya kenal ayahnya, dan saya turut hadir pada waktu ia baru lahir,” terangnya.
Dalam pandangan Khadijah, sosok Muhammad muda adalah sosok dengan kebaikan yang melimpah, kewibawaan lelaki, kepercayaan amanah, dan pesona jiwa yang tak mampu tersembunyikan oleh kerasnya hidup yang dilaluinya. Sebentuk empati pada Muhammad muda menunas di hatinya. Segala kabar miring yang pernah didengarnya dari orang-orang yang mengatakan bahwa kedudukan Muhammad hanyalah seorang penggembala kambing penduduk Mekah tertepis dengan sendirinya menyaksikan amanahnya pada lelaki itu terlaksana dengan gemilang.
Rasa empati di dalam hati Khadijah bertransformasi, lembut, lambat dan menumbuh pelan, pasti. Rasa empati itu semakin lama berbunga cinta. Ia merasakan perasaan manusiawi terhadap lelaki mulia yang menjadi pekerjanya itu. Dan seperti bentuk cinta jiwa lainnya, cinta yang dirasakannya menginginkan balasan dan penghalalan di singgasana pernikahan. Namun, ia masih merasakan keraguan di dalam dirinya untuk membersamai sang lelaki mulia itu. Sebelumnya, ia telah menikah dengan Atiq bin Aid bin Abdullah Al Makhzumi dan Abu Halah Hindun bin Zarrah At Tamimi. Bahkan ia telah memiliki putri yang sudah berada di usia nikah dan seorang putra lagi. Saat itu Khadijah berusia sekitar empat puluh tahun. Selisih usianya dengan Muhammad sekitar lima belas tahun.
Dalam kebimbangan itu, datanglah kawan karibnya yang bernama Nafisah binti Munayyah. Ia adalah kawan Khadijah dimana ia banyak mendengarkan keinginan-keinginan hati Khadijah. Dan kali ini termasuk tentang rasa cintanya terhadap Muhammad dan hasrat hatinya untuk menjadi istri dari lelaki yang dicintainya itu. Nafisah pun mengerti. Ia menawarkan bantuannya untuk menjadi utusan rindu antara Khadijah dan Muhammad.
Segera ditemuinya Muhammad. Ditanyalah lelaki mulia ini alasan-alasan mengapa ia belum juga menikah. Ia juga menjelaskan kepada Muhammad tentang keutamaan-keutamaan bagi orang yang menikah yang didampingi seorang istri yang setia. Muhammad muda termangu membayangkan idealisme yang dijabarkan nafisah dan realita yang dihadapinya di masa lalu dan kini.
“Aku tidak tahu dengan apa aku dapat beristri…?” jawab Muhammad dengan pertanyaan retoris.
“Jika ada seorang perempuan cantik, hartawan, dan bangsawan yang menginginkan dirimu, apakah engkau bersedia menerimanya?” tanya Nafisah balik.
Syaikh Shafiyurahman Al Mubarakfuri dalam Rahiq Al Makhtum menyebutkan bahwa Nafisah binti Munayyah bergegas menemui Muhammad muda dan membeberkan rahasia Khadijah tersebut dan menganjurkannya untuk menikahi Khadijah. Muhammad pun menyetujuinya dan merundingkan hal itu dengan paman-pamannya. Kemudian mereka mendatangi paman Khadijah untuk melamarnya bagi Muhammad. Pernikahan pun segera berlangsung dengan dihadiri oleh Bani Hasyim dan para pemimpin suku Mudhar. Muhammad menyerahkan mahar sebanyak dua puluh ekor unta muda.
“Muhammad,” kata Abu Thalib, sang paman, dalam Romantika Rumah Tangga Nabi, “Adalah seorang pemuda yang mempunyai beberapa kelebihan dan tidak ada bandingannya di kalangan kaum Quraisy. Ia melebihi semua pemuda dalam hal kehormatan, kemuliaan, keutamaan, dan kecerdasan. Walaupun ia bukan termasuk orang kaya, tapi kekayaan itu dapat lenyap. Sebab setiap titipan atau pinjaman pasti akan diminta kembali. Sesungguhnya Muhammad mempunyai keinginan khusus terhadap Khadijah binti Khuwailid, begitu pula sebaliknya…”
Tentu saja kisah cinta Khadijah – Muhammad adalah kisah yang sarat dengan hikmah dan berlimpah berkah. Dua orang mulia bertemu dalam singgasana pernikahan yang sama. Bergemuruh oleh kerja-kerja cinta di antara keduanya. Saling melengkapi di antara keduanya. Dan kematangan serta sikap keibuan Khadijah adalah energi gerak dan penenang jiwa tatkala sang suami memikul amanah langit dan menyampaikan dua kalimat keadilan. Penyiksaan psikis pun bisa dikikis oleh rasa kasih dan sayang Khadijah pada Muhammad, Rasulullah.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya Khadijah hanya berdiam diri menunggu takdir cintanya kepada Muhammad. Bisa jadi Rasulullah tetap akan meminang Khadijah. Namun, bisa jadi hal lain yang terjadi, yakni tidak terjadi apa-apa di antara keduanya. Dan tentu ceritanya akan lain jika Khadijah tidak menikah dengan Muhammad. Namun, sejarah cukup membuktikan bahwa takdir telah diciptakan oleh Khadijah dengan mengutarakan rasa cintanya melalui kawan karibnya, dan takdir ciptaannya itu pun berjodoh dengan takdir ilahi. Khadijah memang perempuan mulia, dan kemuliaannya itu tidak mengurangi kekuatan dirinya untuk memperjuangkan rasa cintanya. Dan cinta Khadijah – Muhammad pun mengabdi di langit jiwa sejarah manusia. Semua bermula tatkala perempuan mulia itu menyatakan dan memperjuangkan cintanya.
Kita seringkali tidak memahami bahwa kehidupan berjalan dalam siklus pilihan, keputusan, dan konsekuensi. Kisah-kisah hidup perempuan-perempuan ini memang berakhir bahagia dalam perjuangan cintanya untuk membersamai lelaki yang dicintainya. Namun, ada juga kisah yang tidak gemilang, bahkan berkesan coretan buram menghitam dalam sejarah perjuangan cinta, jika boleh kita sebut cinta. Mari kita simak kisahnya sebagaimana dituturkan Salim A Fillah dalam Jalan Cinta dengan menukil dari Raudhatul Muhibbin dan Taujih Ruhiyah.
Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga.
Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulang kali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu.
Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itu pun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.
Maka ditulisnyalah surat itu, memohon bertemu. Dan ia mendapat jawaban. ”Ya”, katanya.
Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya.
”Maha Suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, ”Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”
Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. ”Andai saja kau lihat aku”, katanya, ”Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”
”Betapa inginnya aku”, kata si gadis, ”Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”
Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. ”Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit dan penyesalan yang tak berkesudahan.”
Si gadis ikut tertunduk. ”Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, ”Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegup. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”
”Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. ”Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertaqwa.”
Ah, perjuangan cinta si perempuan itu tampak nyata tidak indah. Memang benar ia orang yang romantis dan memiliki daya khayal yang tinggi serta kemampuan merangkai kata yang indah. Namun, semuanya berbau aroma syaitan dan nafsu. Kesucian cinta yang seharusnya ada di dalam hatinya dan mengejawantah di dalam laku juangnya ternyata tergerus oleh badai hawa nafsu. Selain persoalan ikhtilath yang terjadi di antara mereka, si perempuan itu tidak menunjukkan juang cintanya dalam bentuk yang halal. Semuanya di luar bingkai pernikahan. Begitu hitam dan memalukan yang mendengar kisahnya. Semua bermula tatkala si perempuan mulia itu menyatakan dan memperjuangkan cintanya.
“Di kota Kufah,” tulis Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Mubibbin, “Ada seorang pemuda yang tampan sekali wajahnya, rajin beribadah, dan berijtihad. Suatu hari dia singgap di suatu kaum dari An Nakha’. Di sana pandangannya terpapas dengan seorang gadis yang cantik jelita dari kaum itu, sehingga dia langsung jatuh cinta kepadanya. Dia pun berpikir untuk menikahinya. Dia singgah di tempat yang lebih dekat dengan rumah gadis itu, lalu mengirim utusan untuk menyampaikan pinangan kepada ayah sang gadis. Namun, dia dikabari ayahnya, bahwa gadis itu sudah dipinang oleh anak pamannya sendiri.”
Lelaki shalih dan perempuan itu ternyata telah saling mencinta. Dan status si perempuan yang telah dipinang membuat mereka tidak bisa bersatu. Gelora cinta dan asmara begitu menggebu di antara keduanya. Tatkala si perempuan sudah demikian merasa berat, maka ia mengirim utusan kepada lelaki itu.
“Aku sudah mendengar tentang besarnya cintamu kepadaku. Aku pun sedih karenanya. Jika kamu mau, aku bisa menemuimu. Atau jika kamu mau, maka aku bisa mengatur cara agar kamu bisa masuk ke dalam rumahku,” kata utusan itu menirukan pesan si perempuan.
Lagi-lagi, pernyataan cinta dan perjuangan untuk dapat membersamai ini kembali dicoret dengan warna buram menghitam. Keindahan cintanya di antara sepasang manusia itu ternodai oleh niat yang tidak lempang. Terpesong dari jalan cinta rabbani. Namun, ada yang indah dari kisah ini. Tatkala mendengar tawaran dari si perempuan yang sedang mabuk kepayang oleh cinta itu, sang pemuda malah menjawab, “Tidak adakah pilihan di antara dua hal yang dicintai ini? Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar jika aku mendurhakai Tuhanku. Sesungguhnya aku takut api neraka yang baranya tidak pernah padam dan tidak surut jilatannya.”
Mendengar jawaban dari lelaki yang dicintainya itu, si perempuan meluncur di titik balik. Ia tersadar atas khilafnya dalam perjuangan cinta yang ia lakukan. Ia sadar dan bertobat. Ia mengabdikan dirinya pada Allah dan hanya beribadah semata. Memisahkan diri dari keluarganya. Namun begitu, ia tetap tidak mampu memadamkan rasa cintanya dan kerinduannya kepada sang pemuda hingga meninggal dalam keadaan seperti itu. Mereka memang akhirnya tidak pernah saling membersamai dalam singgasana pernikahan, tapi masih terasa indah akhirnya. Kesucian diri dari maksiat atas nama cinta. Kisah serupa juga dialami oleh Abdurahman bin Abu Ammar yang dicintai oleh seorang perempuan Mekah yang menyatakan cintanya dan mengajaknya berbuat mesum. Namun, cintanya pada Allah menuntunnya tetap menjaga kesucian diri. Semua bermula tatkala si perempuan itu menyatakan dan memperjuangkan cintanya.
Memperjuangkan cinta bagi seorang perempuan adalah keputusan yang sulit. Di sana dibutuhkan keberanian yang berlipat-lipat dibandingkan dengan perjuangan cinta seorang lelaki. Ada adat, tradisi, dan karakter jiwa yang harus dilawan untuk mampu mengambil keputusan besar itu: memperjuangkan cinta. Rasa malu yang dimiliki perempuan dalam urusan cinta sangatlah mendalam. Oleh karena itu, Rasulullah menjelaskan bahwa kemauan seorang perempuan akan pinangan seorang lelaki adalah dengan diamnya, dalam arti tidak menolak, tanpa perlu mengiyakan dengan rangkaian kata-kata. Namun, kekuatan cinta memang dahsyat dan menggerakkan.
Dalam Shahih-nya, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika berada dalam sebuah majelis Rasulullah, seorang perempuan berdiri dan berkata kepadanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mau kepadaku?” Dalam kesempatan lain, perempuan yang lain datang pada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah saya datang untuk menghibahkan diriku kepadamu.”
Hadits tentang perempuan yang pertama diriwayatkan oleh Tsabit Al Bunani dalam Bab Seorang Perempuan Menawarkan Dirinya Kepada Lelaki Shalih. Sedangkan hadits tentang perempuan kedua diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad. Meskipun kedua bentuk penghibahan diri perempuan ini adalah hal yang khusus bagi Rasulullah sebagaimana dicantumkan dalam Surat Al Ahzab ayat 50, tapi menawarkan diri untuk dinikahi lelaki shalih adalah hukum umum yang berlaku untuk semua lelaki shalih.
“Di antara kehebatan Bukhari di sini,” kata Ibnu Al Munir, sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, “Adalah dia tahu bahwa kisah perempuan yang menyerahkan dirinya ini bersifat khusus. Maka, dia beristinbath (menyimpulkan hukum) dari hadits ini untuk kasus yang tidak bersifat khusus, yaitu diperbolehkannya seorang perempuan menawarkan dirinya kepada lelaki yang shalih karena menginginkan keshalihannya. Hal itu boleh dilakukan.”
“Hadits tadi memuat dalil bolehnya seorang perempuan menawarkan dirinya kepada laki-laki shalih. Perempuan itu juga boleh memberitahukan bahwa ia mencintai laki-laki tersebut karena keshalihannya, keutamaan yang dimilikinya, keilmuannya, dan kemuliannya. Sungguh ini bukan suatu perangai jelek. Bahkan, ini menunjukkan keutamaan yang dimiliki perempuan itu,” kata Imam Al ‘Aini.
Masih dari Fathul Bari, dalam Kitab Tafsir, diterangkan bahwa perempuan yang menawarkan diri itu adalah Khaulah binti Hakim, dan ada yang mengatakan Ummu Syarik atau Fathimah binti Syuraih. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa perempuan itu adalah Laila binti Hathim, Zainab binti Khuzaimah, dan Maimunah bintul Harits.
“Dari hadits tentang seorang perempuan yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah ini,” kata Ibnu Hajar, “Dapat disimpulkan bahwa barangsiapa dari kaum perempuan yang ingin menikah dengan orang yang lebih tinggi darinya, tidak ada yang harus dirasakan malu sama sekali. Apalagi kalau niatnya baik dan tujuannya benar. Katakanlah, umpamanya karena lelaki yang ingin dia tawarkan itu mempunyai kelebihan dalam soal agama, atau karena rasa cinta yang apabila didiamkan saja dikhawatirkan dapat membuatnya terjerumus pada hal-hal yang dilarang.”
Bagi kebanyakan kita, mungkin juga termasuk saya dan Anda, jika mendengar seorang perempuan yang menawarkan diri untuk dinikahi oleh seorang lelaki shalih, mungkin kita akan berkata seperti yang dikatakan oleh putri Anas yang kala itu menyaksikan sebentuk perjuangan cinta itu, “Alangkah sedikit rasa malunya. Sungguh memalukan! Sungguh memalukan!”
Namun, saya lebih suka perkataan yang disampaikan oleh sang ayah, Anas, kepada putrinya itu, “Dia lebih baik daripada kamu. Dia mencintai Rasulullah, lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau.”

Putri Pendeta Menjadi Daiyah

Aku tidak mengenal sedikitpun tentang Islam, bahkan selama hampir duapuluh tahun, sampai aku kuliah di jurusan informatika Universitas Timbell Philadelphia. Pertama kali aku melirik Islam berawal ketika beberapa dosenku menyampaikan informasi tentang Islam. Mereka menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang merusak (destruktif). Hal ini menggugahku untuk lebih banyak membaca literatur tentang Islam. Setelah aku mengkajinya ternyata aku dapati semua itu hanyalah tuduhan palsu, zalim dan penuh kebencian. Akupun segera –tanpa ragu– menyatakan diri masuk Islam. Sejak itu aku ganti namaku menjadi Laila Ramzy.
Aku dilahirkan di New England pada bulan Januari tahun 1959, Ayahku seorang pendeta yang mengabdi di sebuah gereja. Sudah lama aku banyak meragukan gereja, terlebih setelah Ayahku ingin agar aku menjadi misionaris. Akan tetapi Allah SWT menghendakiku sesuatu yang lebih baik dan kekal. Sementara sejak kecil aku sama sekali tidak mengenal tentang Islam. Hal ini terus berlangsung hingga usiaku 20 tahun dan mulai melanjutkan kuliah di  Universitas. Di samping itu aku juga mendapat kuliah tambahan tentang strategi politik wilayah Timur Tengah, ternyata kuliah ini menjadi pintu kebaikan dan kebahagiaan untukku.
Dari mata kuliah itu aku banyak mengetahui tentang negara-negara Arab-Islam. Ternyata apa yang aku dapatkan sebelumnya informasi tentang Islam sangat jauh dari kenyataan. Karena sejak 1400 tahun yang lalu Islam telah mewarnai kehidupan sosial politiknya dan telah mengukir sejarahnya dengan gilang genilang. Aku bertanya kepada diriku, “Anda lihat mengapa mereka sengaja mendelete Islam dan menjauhkan para mahasiswa dari pemahaman yang benar terhadap Islam?” Dampaknya para mahasiswa menganggap Islam sebagai agama yang berbahaya bagi struktur pemahaman dunia Barat umumnya dan bagi pemikran kaum muda Nasrani khususnya.
Meskipun ditentang oleh Ayahku, aku mulai terus membaca literatur tentang Islam. Sehingga aku dapatkan prinsip-prinsip agama yang agung ini menghunjam dalam hatiku dan mendomonasi pikiranku. Aku mulai memahami akidah Tauhid dan meyakini bahwa Isa adalah manusia biasa seperti Musa, Ibrahim, dan Muhammad. Aku juga mulai mengerti bahwa khamr, zina, dan, judi adalah sesuatu yang diharamkan. Hal ini amat kontras dengan kehidupan yang berlangsung di Eropa dan Amerika. Akupun mulai semakin banyak mempelajari ibadah dalam Islam; seperti shalat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu.
Aku mulai mengumumkan keislamanku. Meskipun ayahku marah dan sedih aku memutuskan untuk pergi ke Mesir agar bisa hidup di sana bersama umat Islam. Di sanalah aku mempelajari Al-Qur’an lebih dalam. Di Kairo aku juga bertemu dengan pemuda muslim yang memiliki komitmen kuat dengan agamanya, ia menawarkan dirinya untuk menikahiku, akupun menerima dan menyetujuinya, dan perkawinanku dengannya telah berlangsung dua tahun. Allah telah menganugrahkan kepadaku seorang anak yang kuberikan nama islami, Toha. Aku berdoa kepada Allah Azza wa jalla agar ia tumbuh menjadi anak yang baik, dan menjadi penyedap pandanganku dan suamiku.
Laila berkeinginan untuk meneruskan studi Islamnya, menghapal Al-Qur’an dan hadits nabi agar memperoleh maslahat dari pengetahuan dan wawasannya yang sahih.
Disadur dari kitab At-Taa’ibuuna ilallah, Syaikh Ibrahim bin Abdillah Al-Hazimy.

Rabu, 02 Februari 2011

Saat Pedang Musuh Ada di Tanganmu, Apa yang Kau Lakukan?


Hari ini tanggal 9 Rabiul Awal. Tahukah engkau apa yang terjadi pada hari ini 1430 tahun yang lalu? Saat itu dua orang yang telah menempuh perjalanan selama satu pekan dengan didahului menginap di sebuah gua yang gelap beberapa hari, tiba di sebuah daerah yang bernama Quba. Mereka berdua adalah Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar.

Tapi tulisan ini ingin mengajak kita pada fragmen sebelumnya. Sekitar empat hari sebelum itu... Tampak dari kejauhan sesosok laki-laki menunggang kuda dengan kecepatan tinggi hendak menyusul mereka. Dari kejauhan juga kelihatan samar-samar bahwa ia membawa pedang. Siapa dia? Ada maksud apa gerangan?

Mungkin saat itu Abu Bakar cemas sebagaimana kecemasannya tatkala berada di gua tsur dan orang-orang berada di atas mulut gua, sekali saja mereka melihat kaki sendiri niscaya akan tahu bahwa dua orang target mereka ada di gua itu, namun Allah menyelamatkan mereka berdua. Lalu sekarang? Penunggang kuda itu terus mendekat dan kian dekat, tinggal beberapa meter lagi. Namun...

Kuda yang ditumpanginya terjatuh. Ia pun ikut terjatuh padahal pedang sudah siap di tangan untuk menebas Rasulullah. Ternyata ia adalah Suraqah. Ia berusaha bangkit dan kembali mengejar Rasulullah. Lalu, tinggallah beberapa langkah untuk menyusul dan menyabetkan pedangnya, namun kudanya kembali terjatuh. Sampai ketiga kalinya, kudanya benar-benar terbenam bersamaan dengan itu terkubur pula ambisi Suraqah untuk membunuh Rasululullah oleh bongkahan-bongkahan besar ketakjubannya pada kekuatan yang melindungi Rasulullah. Terkikis sudah ambisi untuk memenangkan sayembara berhadiah 100 onta oleh kekagumannya akan kekuasaan Dzat yang senantiasa menolong Rasulullah.

Kini kemenangan itu telah ada pada Rasulullah dan sangat mudah bagi beliau untuk membunuh Suraqah. Pedang musuh telah ada di tangan, apa yang hendak engkau lakukan? Tapi, ini adalah Rasulullah, manusia teragung dengan akhlaq adzimah. Maka, ia memaafkan Suraqah begitu saja.

Selain merupakan cahaya akhlaq adzimah yang membuat iri para malaikat dan mengundang decak kagum setiap orang, sikap ini berbuah kemanfaatan bagi strategi dakwah. Apa itu? Di belakang Suraqah telah bersiap-siap sejumlah orang mengejar Rasulullah dan membunuhnya karena tergiur hadiah 100 onta. Andaikan saat itu Suraqah dibunuh, tentu orang-orang itu tetap berangkat dan siap 'bertempur' memenangkan sayembara. Namun, takdir Allah mendahului mereka.

Sebelum mereka menghentakkan tali kekang kudanya, Suraqah telah mendatangi mereka. Saat mereka sadar bahwa Suraqah baru saja mengejar Muhammad, mereka pun bertanya: “Apakah kau melihat Muhammad atau berhasil menemuinya” Suraqah menjawab dengan penuh keseriusan “Demi Allah, aku tidak menemukan siapapun di sana, padahal aku telah menelusuri segala medan gurun pasir. Lebih baik urungkan saja niat kalian!” Mereka pun membatalkan rencananya dan melupakan 100 ekor onta yang dijanjikan.

Gerakan amal islami sekarang juga bisa saja menghadapi ancaman yang datang dari musuh dakwah. Lalu ketika kita berhasil mematahkan upaya makar mereka, bahkan kekuasaan itu ada ditangan kita, apakah kita akan meniru Rasulullah? Semoga! [Muchlisin]

Saat Dakwah Sampai ke Militer dan Polisi

Hari ini untuk kesekian kalinya, aku ke Masjid Jami' di sebuah kecamatan di Kabupaten Gresik. Ada pemandangan baru yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Jamaah shalat Asar ini lebih dai 60%nya adalah bapak-bapak bercelana coklat tua dan baju yang khas atau kaos bertuliskan “POLRES GRESIK”. Ya, mereka adalah para polisi. Seusai shalat aku sempatkan bertanya pada salah seorang diantara mereka: apakah terkait dengan program Kapolda Jatim yang baru.

Sebagaimana diberitakan oleh banyak Media, kini wajah kepolisian Jawa Timur memang mulai berubah seiring pergantian Kapoldanya. Kapolda yang baru, Brigjen Pol Anton Bahrul Alam, terkenal sebagai seorang yang religius, gemar shalat jama'ah, membiasakan qiyamullail, dan berdakwah. Maka, misi mulia inipun ditransformasikan dalam tubuh institusinya dengan program-program keagamaan yang akan berefek pada perbaikan citra dan kinerja polisi.

***
Adalah sebuah catatan sejarah yang terjadi di hampir semua tempat, bahwa militer dan polisi kerap menjadi tantangan dakwah di berbagai negara, khususnya saat dakwah berusaha masuk dalam orbit kenegaraannya, mihwar dauli. Maka kita melihat begitu beratnya perjuangan Ikhwanul Muslimin di Mesir untuk bisa memenangkan dakwah di level ini dan memasuki mihwar dauli. Meskipun mayoritas ilmuwan dan lembaga profesi telah menjadi bentuk lain dari transformasi Ikhwan, dakwahnya belum juga diterima dan menuai kemenangan secara formal struktural. Walaupun kita bahkan sangat sulit mencari lembaga profesional yang tidak berafiliasi dengan ikhwan, toh masih ada tembok tebal yang menghalangi dakwah ikhwan dari pemerintahan. Dan tembok tebal itu adalah militer.

Di Turki, meskipun AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi) di bawah pimpinan Recep Thayyib Erdogan berhasil memenangi pemilu dan menjadi penguasa pemerintah, tidak serta merta dakwah mampu mendeklarasikan diri untuk mengejawentahkan nilai-nilai Islam secara integral di sana. Lagi-lagi ada tantangan besar yang memposisikan dirinya sebagai penjaga sekularisme, dan itu juga militer.

Belum lagi sejarah panjang konflik militer – dakwah di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Maka, yang kemudian harus menjadi kesadaran bersama bagi institusi dakwah adalah bagaimana dakwah ini -di samping menjaga keberhasilannya dalam aspek lain- bisa masuk ke dalam institusi militer dan kepolisian. Mengapa? Tentu yang pertama adalah bahwa mereka juga bagian dari umat manusia yang berhak mendapatkan dakwah seperti entitas lainnya. Bukankah dakwah Islam adalah dakwah yang syamil mutakamil? Bukankah Islam adalah Din yang rahmatan lil a'alamin? Di sini, tantangan internal pertama yang harus kita singkirkan adalah persepsi bahwa militer tidak bisa didakwahi sebab doktrin nasionalismenya telah menghilangkan cita rasa religiusnya. Persepsi ini harus dihilangkan, tapi bukan berarti hilang kewaspadaan. Artinya, mereka para dai yang diterjunkan ke sana haruslah orang-orang yang kuat, yang tidak kemudian justru terwarnai oleh doktrin sekuler, atau bahkan menjadi intel yang kontraproduktif bagi dakwah.

Kedua, militer dan kepolisian yang terdakwahi justru akan menjadi akselerator bagi keberhasilan dakwah. Sebaliknya, meskipun dakwah Islam mampu menyemai nilai-nilainya pada unsur bangsa yang lain, ia bisa diperlemah, dihambat, atau “dikudeta” oleh militer yang merasa “dikhianati”. Terlebih ketika dakwah memperoleh “kemenangan tipis” lalu terjebak pada “isti'jal” untuk sesegera mungkin merealisasikan cita-citanya dalam konteks negara.

Ketiga, mereka, khususnya kepolisian adalah institusi yang jika "digarap" dengan serius akan menjadi lembaga penegak nahi munkar yang paling efektif. Bersama dengan Satpol PP mereka akan menjadi perpanjangan tangan dakwah dalam hal pencegahan sekaligus penanganan kemaksiatan dan tindak pidana. Bukankah inti dakwah adalah amar ma'ruf nahi munkar? Dan bukankah jika kemunkaran seperti judi, prostitusi, miras, narkoba dan sebagainya adalah musuh dakwah. Jika polisi dan Satpol PP yang bergerak memberantas kemungkaran itu dengan payung konstitusi, adakah masyarakat yang "membenci" dakwah sebagaimana "ketidaksukaan" mereka pada lembaga dakwah seperti FPI sekarang?

Keempat, militer dan kepolisian adalah alat pertahanan negara. Militer memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh institusi lain. Kekuatan ini bisa menjadi penghalang dakwah, manakala ia tidak lebih dahulu diwarnai oleh dakwah ini. Kekuatan ini juga -setelah terwarnai dakwah- yang akan menjadi kekuatan yang menjaga stabilitas internal dan melindungi negara jika dakwah mendeklarasikan dirinya sementara kekuatan asing hendak menjatuhkannya. Lebih dari itu, merekalah yang akan menjadi kekuatan utama bagi amal jihadi.

Akhirnya, dakwah memang harus menyebar ke semua lapisan. Militer dan kepolisian adalah salah satunya. Konsekuensinya, di samping seluruh elemen dakwah saat ini berusaha memenangkan dakwah dalam ranah politik untuk kemudian memasuki mihwar dauli, para qiyadah dituntut untuk menghadiahkan dakwah ini pada jajaran militer dan kepolisian sesuai dengan levelnya masing-masing.

Jika satu orang kapolda bisa berbuat begitu banyak, maka saat dakwah tersebar di seluruh jajaran kepolisian dan militer sungguh nuansa islami yang rahmatan lil 'alamin akan telihat di seluruh pelosok negeri. Jika satu mantan pejabat polri bisa menggerakkan simpati sekian banyak warga ibukota, maka saat dakwah ini mewarnai seluruh lapisan kepolisian dan militer, saat itu kita akan melihat hasil akhir yang pernah disampaikan Hasan Al-Banna “Berikan kepadaku Al-Azhar, pemuda dan militer; maka akan kutaklukkan dunia bersama mereka” [Muchlisin]

Segenggam Ukhuwah KAPMI di Jalan - Nya

Setelah membaca beberapa kisah dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah,aku tersadar bahwa ternyata selama ini teman-temanku yang berhimpun di jalan Dakwah adalah orang-orang yang berkorban untuk Agamanya, demi Ukhuwah. Meski waktu, jiwa dan raga telah habis di makan perjalanan untuk kepentingan untuk saudara, bangsa, Negara, dan Agama.
Ketika ku baca salah satu cerita yang mengisahkan tentang seorang bapak dan anak yang selalu berprasangka baik atas segala keputusan Allah untuknya, kisah seorang Menteri yang menyatakan Takdir Allah itu baik kepada Sang raja yang sedang terputus salah satu jarinya hingga membuat raja marah dan terpaksa membuatnya masuk kedalam penjara, seorang yang teguh pendirian, seorang yang berkorban untuk keluarganya, telah menginspirasiku untuk menceritakan sebuah pengalaman yang pernah di alami oleh teman-teman yang berjuang di Jalan Allah.

Berawal dari KAPMI, Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia itulah namanya. Mungkin nama KAPMI saat ini  belum terlalu terdengar dan masih terlalu asing di telinga banyak orang. Wajarlah.. Karena memang dari namanya saja sudah aneh dengan logo yang jadul ( kata orang.. hehehehe) belum terlalu eksis di Media saat ini. Tapi begitulah, sebuah nama yang telah menginspirasi hidupku ketika di masa-masa gentingnya keharmonisan antara dunia kelam yang selalu mengelilingi ruang hidupku dan dunia putih yang bersih, menyinari sekaligus menerangi hari-hariku untuk selalu mengingat Illahi. Di KAPMI sendiri, dipenuhi oleh orang-orang berwajah usang yang selalu berkorban untuk Agama dan martabat saudara-saudaranya. Merekalah yang telah menarik dan menyelamatkanku, merangkul tanganku dengan penuh kekuatan,dan keikhlasan dari terpelesetnya lubang di dunia yang kelam. Telah mengajariku arti pengorbanan, arti Ukhuwah. Terima kasih ya Robb, Engkau telah mempertemukanku dengan mereka.

Sungguh, aku pun tidak ingin meninggalkan kenangan itu. Kenangan yang telah Allah berikan terhadap kehidupanku di kesetiap harian dunia putih abu-abu dengan orang-orang yang berani berjuang di JalanNya tanpa membalas imbalan, berani mengeluarkan lembaran uang lusuh, uang terakhir yang dia miliki hanya untuk perjalanan mencari HidayahNya. Tak sedikit waktu yang mereka korbankan hingga berlarut-larut malam hanya untuk menyelamatkan saudara-saudaranya di medan pendidikan dari kebobrokan moral yang kini telah melanda dunianya. Mereka mencoba menjadi tameng dari segala kebobrokan moral itu agar tidak mencemari saudara-saudaranya yang lainnya. Turun ke jalan pun sering mereka lakukan hanya untuk menyelamatkan bangsa, agama, dan saudara-saudaranya. Demi Dakwah di jalan Allah, ia rela mengenyampingkan keadaan dirinya sendiri meski mungkin saat itu dirinya sedang lelah dan butuh pertolongan. Mungkin, mereka yakin bahwa ujian Allah untuknya adalah yang terbaik. Dan sebaik-baiknya tempat meminta pertolongan hanyalah kepada Allah.

Mungkin semua orang awam pun akan menghinakan mereka karena kecongkakannya dalam menatap hidup menurut pandangan keawamannya. Begitu pun menurutku. Tapi ternyata menurut mereka, tidak seperti itu. Di kesehariannya yang penuh dengan raut wajah kelelahan, mereka masih saja tetap senang, tetap berkecukupan, dan tetap istimewa karena keindahan pesona senyumnya.

ya.. itulah.. sebuah memori indah.. yang mungkin tidak semua orang bisa merasakannya.. kenangan indah.. tapi yang lebih indah adalah Takdir Allah dengan segala gemercik lika-liku hidup yang Ia berikan kepada kita..

Dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah, telah membawaku untuk mengingat sebuah kisah usang dari saudara-sadaraku di KAPMI, yang mungkin bisa menjadi renungan dan inspirasi buat kita semua.

inilah kisahnya.. Di awal tahun 2000an ketika KAPMI baru saja memasuki masa kejayaannya, ada seseorang yang mungkin tidak semua orang bisa melakukan sesuatu sepertinya. Perngorbanan di jalan Dakwah ini sungguh luar biasa. Awalnya ku rasa cerita ini hanyalah fiktif belaka, tapi ternyata kisah nyata yang tak terduga perjuangannya.
Inilah tokohnya, sebut saja Obet, seorang siswa sekaligus ketua KAPMI di daerah Jakarta Utara periode 2000-an, ia adalah seorang yang selalu berpakaian lusuh, tapi semangatnya tidak pernah runtuh.

Setiap hari, setiap kali ke sekolah yang cukup jauh dari rumahnya, ketika teman-temannya telah berbondong-bondong menaiki sepeda motor ataupun transportasi lain, ia hanyalah orang yang selalu menaiki sepeda bututnya yang sangat tua dan sudah lapuk dimakan usia. Di Parkiran sekolah, sepedanyalah yang menjadi sorotan semua orang ketika menuju parkiran sekolah karena pakriran sepeda itu di kelilingi oleh parkiran motor-motor yang elok, bersih, indah dipandang, dan terlihat sekali mahalnya motor-motor itu. Sedang sepedanya hanyalah sepeda yang sudah teramat butut dan lapuk yang hanya menjadi sampah pengelihatan karena kejelekansepedanya itu. Walaupun begitu, ia tiada pernah menyalahkan Takdir Allah untuknya dan tidak pernah merasa tersindir dengan kepunyaan rekan-rekannya, "Toh, semua itu hanyalah milik Allah" pikirnya mungkin seperti itu.

Sepeda itupun sering mengalami kerusakan yang cukup kronis ketika diperjalanan, mulai dari kebocoran ban yang sudah banyak tambalannya maupun kerusakan rantai sepeda yang sudah karat dan tak bisa bergerak, rem yang sudah tak bisa dipakai lagi sejak lama maupun kerusakan yang lainnya mungkin telah menjadi kebiasaan bagi hidupnya ketika bepergian kemana-mana dan sudah tidak lagi menjadi sebuah hambatan baginya untuk tidak pergi ke sekolah maupun menghadiri berbagai pertemuan, kegiatan Dakwah, maupun Syuro' dengan teman-teman KAPMI baik di tingkat Daerah maupun Wilayah.

Ketika sepeda sedang rusak parah, tidak bisa dipakai, ataupun terpaksa harus di rawat di bengkel terdekat pun tak pernah meruntuhkan semangat dan menjadikan alasan baginya untuk tidak menghadiri berbagai macam kegiatan. Dengan tekad yang tinggi, jalan kaki dipertaruhkan untuk perjalanan yang sangat jauh sekali pun tak masalah baginya, asalkan ia bisa menghadiri berbagai macam kegiatan tersebut.

Jarang sekali dirinya ketika pulang sekolah langsung menuju ke rumah. Sebab dirinya selalu dipenuhi dengan berbagai kegiatan Dakwah. Walaupun begitu, pengembangan Ruhiyyah, ibadah, pekerjaan rumah, dll tidak pernah ditinggalkan meski diselingi berbagai kesibukan.

Mungkin menurutku, ruhhnya dibangun dengan keistiqomahan, dibina dengan dengan alam.

Dengan bersepeda, ia tidak pernah mengeluh dengan semua itu, dan mencoba untuk selalu datang tepat waktu di berbagai macam kegiatan meski dirinya saat itu dalam kelelahan. Padahal, jarak yang ia tempuh dengan sepeda bututnya cukup jauh, berkilo-kilo dan berjam-jam waktu dan tenaga yang harus ia korbankan. Tak ubahnya ketika sesampainya pada suatu tempat, raut wajahnya dipenuhi dengan debu jalanan, pakaiannya lusuh dengan keringat, tapi senyumnya seakan menerawang pikiran kita untuk selalu ingat dengan Syurga, yang sebegitu indahnya.. menjadi motivasi kita untuk mendapatkan keindahan itu.. dengan pengorbanan, doa, dan keyakinan tentunya.

mungkin dalam pikirannya, ia adalah makhluk yang penuh dengan dosa, tapi ingin menggapai syurga meski pun harus mengorbankan seluruh jiwa raganya..

Suatu hari, ada ta'limat untuk Obet agar ia dapat menghadiri Syuro' di Sekrtariat KAPMI DKI Jakarta yang ketika itu tempatnya berada di Daerah Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Karena ketrbatasan uang saku, sepeda pun selalu menjadi penopang dirinya agar bisa hadir dalam Syuro' tersebut.

Sebenarnya ia sudah sering mengayuni sepeda bututnya dari Jakarta Utara menuju Sekretariat KAPMI  DKI yang berada di Jakarta Selatan, namun kali ini ternyata ada keganjalan ketika ia berada didalam perjalanan. Allah mengujinya dengan kebocoran salah satu ban sepeda miliknya ketika sudah melakukan setengah perjalanan jauh, tepatnya di daerah Jakarta Pusat.

tapi dengan Azzam yang kuat, ia tidak menyerah untuk menghadiri Syuro' tersebut.. meskipun pada saat itu ternyata ia pun kehabisan uang saku, tidak punya uang sama sekali untuk menambal ban sepedanya yang bocor. Akhirnya, sepeda itupun ia tenteng dengan sepenuh tenaga menuju ke arah Mampang Prapatan yang jaraknya masih terlalu jauh.

Ketika di perjalanan menenteng sepeda yang cukup jauh, akhirnya ia putuskan untuk menitipkan sepedanya di salah satu warung penjual Bakso yang menetap di pinggir jalan dalam keadaan yang cukup lelah. " assalaamu'alaikum.." di ucapkannya pada penjual Bakso tersebut. Ketika tukang Bakso menatap wajahnya, ia pun terheran-heran dengan wajah asing orang ini. Meski pun begitu, tukang Bakso itu pun menjawab salamnya "..wa'alaikum salaam..". Obet pun menyambut jawaban itu dengan senyuman yang menandakan keikhlasan kepada sang penjual Bakso meski keringat di wajahnya sudah berlumuran mengucur ke seluruh tubuh karena perjalanan siang terik mentari Jakarta yang hingga sore hari pun tak kunjung turun dari permukaannya. Interaksi diantara keduanya pun berlangsung.

Obet: ".. permisi.. pak, boleh saya minta bantuan bapak untuk menitipkan sepeda ini ke bapak.." dengan keharmonisan bicaranya.
tukang bakso. "..hem....boleh-boleh saja dek,.. memang sepeda kamu kenapa? tapi bapak cuma buka warung ini hanya sampai jam lima sore lho dek.."
lalu Obet pun menjawab dengan senyumnya yang indah.
Obet: "oh.. ini pak, sepeda saya tadi bocor di jalan.. tapi saya masih harus ke Mampang Prapatan karena teman-teman menunggu saya di sana.. mudah-mudahan saya bisa ya pak sampai jam lima di sini.. tapi kalau tidak, mungkin bapak bisa menaruh sepedanya di samping gerobak bapak sambil diikat dengan rantai dan gembok ini.. nanti biar saya yang mengambil.. hehehe.. " dipenuhi dengan gurau keakrabannya.
lalu tukang bakso itu pun menjawab sambil bertanya.
tukang bakso:" yo wess.. bisa dek.. tapi kamu ada ongkos gak buat ke Mampang.."
Obet:".. ooh, kalo urusan ini sih saya siap pak untuk jalan kaki sampai Mampang.."
tukang bakso:"memang kamu dari mana asalnya..?."
Obet: "dari Jakarta Utara.. pak..". tukang Bakso pun cukup tercengang dengan ungkapan itu.
tukang bakso:"hah.. jauh sekali dek.. yaudah, ini saya kasih uang ke adek Rp. 4000 cukupkan buat pulang pergi dari Mampang ke sini.." sambil mengocek-ngocek tempat uang di gerobak Bakso, mengambil Rp.1000an 4 lalu di tadahkan kepadanya.
Obet: "waah.. pak, jangan repot-repot.. saya masih bisa kok jalan kaki.." dengan keragu-raguannya atas perkataan tukang Bakso itu.
tukang bakso:"udah.. ambil aja.. anggap aja Allah nitipin uang buat kamu dari saya.."
dengan sedikit terpaksa, akhirnya uang pemberian tuang Bakso itu diambilnya.
Obet:" ini saya ambil pak.. maaf ya.. kalo sudah merepotkan bapak.. insyaAllah sepulangnya saya ketempat ini akan menggantikan uang bapak.. terima kasih ya pak.. mungkin saya pamit dulu.. takut terlambat untuk datang ke tempat itu.. Assalaamu'alaikum.." di sampaikan salam terakhir itu dengan senyum indahnya.
tukang bakso: "wa'alaikum salaam.." dengan jawaban yang harmonis dari tukang Bakso itu.

Akhirnya ia pun bergegas menunggu bus KOPAJA P20 jurusan SENEN-LEBAK BULUS yang melewati daerah Mampang Prapatan. Tidak lama kemudian bus itu pun datang. Akhirnya ia menaiki bus itu meski pun sudah terlalu pengap dan sumpek karena banyaknya penumpang di dalamnya.

Sesampainya di Sekretariat KAPMI ternyata ia terlambat 30 menit dengan penuh penyesalan, teman-teman yang hadir dalam Syuro' itu pun menanyakan tentang alasan keterlambatannya. Setelah keterlambatannya di klarifikasikan, akhirnya teman-teman di dalam Syuro' itu pun memahami keadaannya. Suasana sore pun menghiasi suasana Syuro' itu. Matahari pun kian menurunkan pandangnya dari Kota kepenatan Jakarta, agenda-agenda Dakwah pelajar pun kian tercetuskan dari Syuro' yang di penuhi kaum intelektual muda itu. Kumandang Adzan Maghrib pun memanggil. Syuro'pun langsung ditutup. Seluruh peserta Syuro' pun bergegas menuju ke Masjid yang tak jauh dari Sekretariat KAPMI.

Obet pun menginggalkan tasnya dan Al-Qur'annya di Sekretariat, dengan semangatnya ia langsung menuju Masjid hingga lupa membantu teman-temannya yang masih beres-beres tempat Syuro' tadi. Sholat pun berlangsung.

Seusai Sholat, dzikir, dan Sholat Ba'diyah, Obet pun langsung bergegas dengan teman-temannya menuju Sekretariat untuk segera mengosongkan tempat itu agar sesampainya di rumah mereka masing-masing tidak terlalu malam.

Sesampainya di Sekretariat, Obet langsung mengambil tasnya sambil menaruh Al-Qur'an miliknya untuk di taruhkan ke dalam tas miliknya. Ketika membuka tas, ia terbingung-bingung, ternyata di dalam tasnya ada kresek hitam berbungkus yang bukan miliknya, ketika di lihat, ternyata kresek itu berisikan nasi bungkus dan sejumlah uang. Obet pun langsung menanyakan hal itu kepada teman-temannya yang masih di Sekretariat " Akh, ini bungkusan siapa..?". Ketika teman-temannya di tanyakan seperti itu justru mereka semua memberikan senyuman indah kepada Obet. Salah satu diantara mereka ada yang berkata, " Akhina Obet, itu rezeki Antum kali. hehehe.". Obet pun makin bingung, sedang teman-temannya justru memberikan senyuman kepada Obet dan membiarkan Obet tetap dalam keadaan bingung. Lalu Obet pun berkata "yo wess.. bingkisan ini ana taro di meja yo..". Ketika Obet menyatakan hal seperti itu, justru teman-temannya menyangkal. "udah bawa aja.. mungkin rezeki antum kali akh.. serius..". dengan keterpaksaan, akhirnya Obet pun membawanya.
" yaudah.. ini ana bawa ya akh.. nanti kalo ada orang yang nyariin kresek ini tolong bilang ke ana.. ana ga'k bakal mengambil kresek ini yang bukan hak ana insyaAllah.. ana pamit duluan ya.. afwan.. takut telah ni.. hehehe..  Assalaamu'alaikum.." Obet pun bergegas meninggalkan tempat itu sambil menggendong tas dan menenteng kresek itu sedang teman-temannya pun menjawab salam dari Obet dengan penuh senyum ketulusan.

Dalam perjalanan yang belum jauhpun, ia masih bingung dan terasup pikiran yang tidak biasanya akan kepemikian bungkusan misterius ini yang ada di tasnya. Mungkin, ia mencoba untuk berprasangka baik pada ujian Allah kali ini. Baru beberapa menit perjalanan, tiba-tiba Ikki, Mas'ul KAPMI DKI Jakarta, langsung berlari-lari kecil berusaha mengejar langkah Obet. " Akh, udah makan aja kressek itu sama Antum" sahut Ikki pada Obet dengan teriakan yang cukup keras. Obet pun tersentak bingung dan serasa tak biasa dengan perlakuan itu. "lho, ini kan bukan hak ana..". dengan senyumnya, Ikki pun menjawab sambil berlari menuju Obet dan langsung memegang pundaknya " udah.. makan aja.. di kresek itu ada nasi dan uang buat antum dalam perjalanan.. itu semua amanah dari teman-teman KAPMI untuk antum.. di makan okee.. hehehehe..". "waah, antum baru bilang sekarang sih.. kalo antum bilang dari tadi udah ana makan duluan ni.. hehehe.." jawab Obet dengan nada canda tawanya. Ikki pun menyahut kembali "yo afwan Akh.. skenariokan di buat sama Kholid.. kalo antum mau salahin, salahin kholid aja yo.. jangan salahin ana okke..  hehehehe..". "hahahaha.. antum ada-ada aja.. Jazakallah ni sudah di beliin.. yaudah.. ana pamit ulu ya.. supaya sepat sampai rumah.. Assalaamu'alaikum.." sahut Obet dengan senyum indahnya. "..wa'alaikum salaam.." jawab Ikki sambil menggelorakan senyum dan melambaikan tangan pada Obet sebagai tanda selamat jalannya.
**

Tanpa sepengetahuan Obet, ternyata seusai Syuro' teman-teman KAPMI mengumpulkan uang untuk Obet, lalu dibelikanlah Obet sebungkus nasi padang sekaligus di selipkan uang di dalam kresek lalu tanpa sepengetahuannya, di taruhkan kresek itu di dalam tasnya.
**

Sekitar jam setengah delapan malam, Obet pun sampai di daerah  tempat tukang Bakso itu. Meski pun penuh dengan lelah, ia pun bergegas mencari Masjid  untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu sebelum menuju lokasi yang di tuju walau pun dalam keadaan masbuk. Seusai Sholat, barulah ia memakan nasi bungkus yang di berikan oleh teman-teman KAPMI, nasi bungkus pun disantapnya dengan lahap mengingat memang ia belum makan dari siang tadi disertai diri yang penuh lelah dan harus sesegera mungkin menambah stamina lagi.

 Seusai itu semua, Obet pun melakukan perjalanan lagi menuju warung itu. Sekitar 20 meter dari warung Bakso itu, ternyata ada suatu hal yang mengganjal bagi Obet yang menjadi berbagai pertanyaan dalam pikirnya ketika itu. Keganjalan itu terjadi ketika Obet melihat warung Bakso itu belum tutup, padahal tukang Bakso itu bilang kalau warungnya itu tutup jam lima sore, tapi mengapa sampai malam ini warung itu belum tutup juga.

Langkahnya pun kian mendekati warung itu, ternyata keganjalannya terhadap warung itu pun makin bertambah, di lihatnya gerobak warung itu, tidak ada satu pun sepeda yang di senderkan ke gerobak itu, padahal Obet berpesan kepada tukang bakso itu untuk menaruhnya di gerobak ketika Obet tak bisa sampai ketempat itu jam lima sore.

Berbagai pikiran pun kian merasuki dirinya, seakan penuh dengan pertanyaan bagaimana?bagaimana? dan bagaimana?
Meskipun begitu, ai berusaha untuk tetap berkhusnuzon akan keganjalan ini. sesampainya di sana, ia bergegas menyalami dan menanyakan sepedanya kepada penjual bakso itu yang kebetulan sedang beristirahat di bale' samping gerobak baksonya. dengan tenang, tukang Bakso itu menunjukkan sepeda miliknya yang ternyata disimpan oleh tukang bakso itu di belakang kiosnya. Ketika Obet melihat sepedanya, ternyata ia ternganga' dan terpaku di tempat itu juga, karena ban sepeda yang bocor sudah di tambal, remnya pun sudah pulih kembali. Obet pun langsung bertanya kepada penjual bakso itu, " pak, ini siapa yang membenarkan sepedanya..". Dengan tenang, penjual Bakso itu pun menjawab ".. mungkin Allah sedang menitipkan rezeki ade ke saya dan di suruh untuk membenarkan sepeda adek.. rezeki Allah jangan ditolak lho... hehehehe.. " dengan terngengah, dan malu tak berdaya. Obet pun terdiam sejenak dan dengan agak malunya ia berkata" baik, ini semua saya terima yo pak.. terima kasih sudah di benarkan.. maaf ya pak kalo merepotkan..".Dengan senyum, penjual bakso pun berkata, ".. gak papa dek.. justru saya merasa malu dengan ade.. karena ade taat banget sama Allah... sedang saya sholat masih belum bisa tepat waktu.. toh, gara-gara nungguin ade di warung sampe malam ini jadi pelajaran lho buat saya.. untuk bisa sholat maghrib dan Isya' berjamaah.. kalo kemaren-kemaren biasanya di pakai untuk langsung tidur.. terima kasih yo dek.." suasana pun ternyata makin harmonis diantara mereka.

Lalu Obet pun pulang dengan sepedanya dalam keadaan yang lebih baik dan nyaman di malam itu. Dengan kebahagiaan.. setelah berkorban.. setelah Allah uji.. setelah ketulusan hati.. pertolongan Allah pun datang.

 Penuh rasa syukur, ternyata Ujian Allah untuknya itu sangat baik. Tinggal bagaimana cara kita berprasangka baik pada Allah.

Semua Ujian Allah memang terkadang membuat kita merasa sulit, tapi yakinlah bahwa Allah memberikan ujuan kepada kita untuk kebaikan kita juga. Tinggal, bagaimana kita mempersepsikan ujian Allah itu. Seperti dalam cerita yang ada di buku Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim A. Fillah telah menginspirasi kita untuk selalu berprasangka baik pada Allah walau bagaimana pun ujian itu. Begitu juga dengan cerita ini.  “ku tak tahu ujian ini berkah atau musibah, tapi ku hanya berprasangka baik pada Allah”.

 Fachri Aidulsyah

Iklan

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites