.

.

Muhammad : 7

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik [Al-Imran : 110]

As-Shof : 4

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.[As-Shof : 4]

Bergerak atau Tergantikan

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Hidup Mulia atau Mati Syahid

Ketika Kau Lahir di Dunia dengan Tangisan, Dunia Gembira Riang Menyambutmu. Ketika Kau Gugur sebagai Pahlawan, Dunia Mengangisimu, Namun Ruhmu gembira menyambut Syurga-Nya

Kita adalah Penyeru

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik [Al-Imran : 110]

Sabtu, 18 Juli 2015

Masjid Tolikara dan Wajah Busuk Media

Tolikara mengingatkan kita pada sebuah kampung di pojok Kota Bekasi bernama Ciketing Asem. Keduanya dilanda tragedi kekerasan pada waktu Idul Fitri. Namun, reaksi media terhadap kedua peristiwa itu bertolak belakang yang semakin menunjukkan betapa busuknya wajah sebagian besar media arus utama kita.
Lima tahun lalu, saat umat Islam merayakan Hari Kemenangan, kaum Muslim di Ciketing Asem justru bersimbah darah setelah aksi provokasi jemaat HKBP. Seketika itu juga dunia internasional menyoroti Ciketing Asem.
Berbagai media (cetak dan elektronik), baik dalam maupun luar negeri, kompak mengangkat peristiwa itu dengan satu angel yang seragam: kebebasan beribadah. Judul kemudian dibuat beragam. Beberapa di antaranya: Pemkot Bekasi Diminta Berikan Izin Ibadah untuk jemaat HKBP (detik), Romo Benny: Negara Tidak Boleh Kalah oleh Pelaku Kekerasan (detik), Indonesia, Belajarlah Toleransi (kompas), Kebebasan Beragama Belum Terjamin (kompas), Ada Pertemuan sebelum Penusukan (kompas), Kebebasan Beribadah Terancam (Media Indonesia), KWI: Gejala Intoleransi Terjadi (kompas), Sukur Nababan: Ini Tindakan Biadab, (kompas), Jemaat HKBP Ditusuk saat akan Beribadah (Koran Tempo), Christian Worshippers Attacked in Indonesia (New York Times/Associated Press).
Nada pemberitaan mereka seperti sudah diatur layaknya paduan suara yang menyanyikan lagu Kebebasan Beragama dengan syair yang menyudutkan umat Islam.
Padahal, fakta sesungguhnya tidaklah demikian. Tertusuknya jemaat HKBP akibat provokasi mereka yang berjalan kaki sejauh 2-3 Km untuk beribadah, dengan melewati rumah-rumah penduduk sambil bernyanyi kidung rohani.
Benturan tak terhindarkan. Tak cuma jemaat HKBP yang jadi korban, warga Ciketing Asem pun terluka. Insiden Cikeas terjadi karena bandelnya jemaat HKBP yang tidak mematuhi instruksi Pemkot Bekasi untuk tidak beribadah di Ciketing Asem. Tapi media tak mau tahu. Fakta itu mereka endapkan. Yang ditampilkan hanya akibat. Maka muncullah berita-berita yang memojokkan umat Islam.
Tahun ini, saat umat Islam memekikkan takbir kemenangan di Hari Idul Fitri, nun jauh di Tolikara Papua aksi kekerasan kembali terjadi. Kaum Muslim yang hendak sholat ied diserang jamaah teroris GIDI (Gereja Injil Di Indonesia). Tak cuma itu, mereka juga membakar tempat ibadah umat Islam di sana. Lalu bagaimana media arus utama memberitakannya?
Mari kita cermati pemberitaan Kompas online. Berikut beberapa judul mereka:
1. Situasi Karubaga Berangsur Kondusif, Polisi Selidiki Pemicu Kerusuhan
2. Pembakaran Rumah Ibadah Melanggar Norma Adat Papua.
3. MUI Minta Umat Islam di Tolikara Menahan Diri
4. Belasan Kios dan Rumah Warga Hangus Dibakar Massa Tak Dikenal.
Lain halnya dengan Metro TV Online. Awalnya mereka memberitakan peristiwa tersebut dengan judul: Saat Takbir Pertama, Sekelompok Orang Datang dan Lempari Musholla di Tolikara. Lalu judul diubah menjadi Amuk Massa di Tolikara.
Kita juga masih ingat dengan tragedi Monas 1 Juni 2008. Pola pemberitaan media memang cenderung homogen saat terjadi peristiwa semacam Monas dan Ciketing Asem, juga terorisme. Benang merahnya: mereka kompak memberitakan setiap kejadian yang berpotensi menyudutkan umat Islam; tentang keberagamaan (pluralitas), kebebasan, radikalisme, dsb.
Biasanya, mereka selalu menutupi akar masalah; kerap memblow up akibat, bukan sebab. Insiden Monas, misalnya, diberitakan sebagai aksi kekerasan umat Islam terhadap AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Islam pun diopinikan sebagai anti-kebhinekaan, mengingat saat peristiwa terjadi bertepatan dengan Hari Pancasila. Padahal, bentrokan antara FPI dan AAKBB disebabkan oleh provokasi AKKBB. Tapi media tak mau tahu. Fakta itu mereka sisihkan, dan hanya memberitakan aksi kekerasan FPI.
Keesokan harinya, Koran Tempo menampilkan foto headline saat Munarman, tokoh FPI, sedang “mencekik” seorang laki-laki “yang ditulis mereka sebagai anggota AKKBB“, untuk memberikan efek dramatis aksi kekerasan FPI. Ternyata, fakta yang sesungguhnya tidak demikian. Munarman justru sedang berusaha mencegah anggota FPI melakukan serangan kepada anggota AKKBB.
Kita memang tak bisa menuntut banyak kepada mereka untuk bersikap adil terhadap umat Islam. Namun kita kerap dibuat geram oleh ulah mereka. Media arus utama kita semakin koruptif saat memberitakan isu keumatan. Dan semakin hari, wajah media semacam detik, kompas dan metro kian membusuk, menyebarkan bau tak sedap tentang Islam ke publik. Baunya bertambah menyengat di masa kini, saat negeri ini dipimpin oleh seorang presiden yang secara massif justru dicitrakan positif oleh media busuk semacam mereka. (erwyn/dakwatuna)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/07/18/71818/pembaka-masjid-tolikara-ciketing-dan-wajah-busuk-media/#ixzz3gFv6VM00 


Halaqoh Cinta

Ribuan malam menatap bintang dan harapan
dan ribuan siang menahan terik penantian Mungkin Tuhan ingin kita sama-sama tuk mencari saling merindukan dalam doa-doa mendekatkan jarak kita Tuhan Pertemukan aku dengan kekasih pilihan Seseorang yang mencintaiMu, mencintai RosulMu di multazam ku meminta Ribuan pagi menatap terbit matahari dan ribuan senja menahan gemuruh di dada Mungkin Tuhan ingin kita sama-sama tuk mencari saling merindukan dalam doa-doa mendekatkan jarak kita Tuhan Pertemukan aku dengan kekasih pilihan Seseorang yang mencintaiMu, mencintai RosulMu di multazam ku meminta Hingga malaikat pun terus mendoakan kita Menguatlah keyakinan di hati Tuhan Pertemukan aku dengan kekasih pilihan Seseorang yang mencintaiMu, mencintai RosulMu di multazam ku meminta Tuhan Persatukan aku dengan kekasih pilihan Seseorang yang kan menemaniku, menuju syurga Mu Halaqah Cinta Tempat hati bertemu Halaqah Cinta Tempat hati bersatu


#HalaqohCinta_KangAbay

Minggu, 21 Juni 2015

Jodoh Dunia Akhirat

Ku merayu pada Allah yang tahu isi hatiku
Di malam hening aku selalu mengadu
Tunjukkan padaku

Ku aktifkan radarku mencari sosok yang dinanti
Ku ikhlaskan pengharapanku di hati
Siapa dirimu


Dalam kesabaran ku melangkah menjemputmu
Cinta dalam hati akan ku jaga hingga
Allah persatukan kita

Jodoh dunia akhirat
Namamu rahasia
Tapi kau ada di masa depanku

Ku sebut dalam do'a
Ku ikhlaskan rinduku
Kita bersama melangkah ke Surga, Abadi ..

"Bukan cinta yang memilihmu, Tapi Allah yang memilihmu, Untuk ku cintai .."

‪#‎Abay_JodohDuniaAkhirat‬

Kamis, 14 Mei 2015

Panduan Ikhtiar Ta’aruf: “12 Pekan Meraih Sakinah”

dakwatuna.com – Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saat ada pertanyaan “Berapa sih idealnya jangka waktu ta’aruf (pranikah) hingga menikah?” Kebanyakan mungkin akan menjawab, “Kalau sudah cocok sebaiknya disegerakan” atau “Tidak perlu proses yang berlama-lama”, tanpa menyebutkan jangka waktu yang pasti Kalau saya yang ditanya, bisa saya jawab “Insya Allah cukup 12 pekan saja” Bagaimana caranya? Berikut ini saya sampaikan beberapa tahapan yang bisa dipraktekkan.

Tahap Persiapan Ta’aruf
Seperti kata-kata bijak yang cukup sering didengar “Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal”; begitu pula dalam ikhtiar ta’aruf ini. Sebelum melangkah jauh dalam ikhtiar ta’aruf tentunya ada beberapa aspek yang perlu dipersiapkan, antara lain:

1. Persiapan Diri
Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.”(Muttafaq Alaihi)
Kesiapan ilmu, mental, psikologis, finansial, dll. wajib dipenuhi sebelum berikhtiar ta’aruf. Cukup banyak konselor pernikahan yang memberikan pencerahan seputar persiapan diri ini sehingga tidak perlu saya sampaikan panjang lebar, silakan mengambil referensi dari apa yang telah mereka sampaikan. Anda juga bisa mengikuti kajian dan seminar pranikah, ataupun kursus pranikah yang diadakan beberapa lembaga Islam untuk persiapan diri ini.

2. Pengkondisian Orang Tua
Pengkondisian ke orang tua terkadang dilupakan sebagian rekan dalam ikhtiar ta’arufnya, padahal faktor orang tua bisa menjadi salah satu penyebab lamanya proses ta’aruf karena orang tua belum terkondisikan. Banyak yang berproses ta’aruf terlebih dulu, baru setelah bertemu dengan yang cocok mereka baru menyampaikan bahwa sudah punya calon ke orang tua mereka. Bisa jadi hal ini akan membuat ‘kaget’ orang tua, dan akhirnya proses ta’aruf pun tidak berlanjut. Idealnya pengkondisian orang tua harus dijalani dulu, baru setelah orang tua terkondisikan proses ta’aruf bisa dimulai. Tips-tips agar proses ta’aruf tak “mentok” di orang tua bisa dibaca di artikel yang pernah saya tulis di tautan ini.
Orang tua yang sudah terkondisikan bagi seorang wanita adalah wali yang siap menikahkan apabila sudah ada yang cocok, tidak perlu menunggu lama-lama, bagi seorang ikhwan dalam bentuk restu menikah dalam waktu dekat. Meskipun orang tua merestui untuk menikah tapi menikahnya baru boleh sekian tahun lagi berarti masih belum terkondisikan. Kondisikan dan mintalah restu ke orang tua sebelum berikhtiar ta’aruf, insya Allah akan dimudahkan proses ikhtiarnya.

3. Membuat Biodata/CV Ta’aruf
Dengan alasan kemudahan proses, metode tukar menukar biodata biasa saya gunakan dalam mengawali mediasi proses ta’aruf. Biodata dalam bentuk softcopy akan lebih mudah diproses karena bisa saling ditukarkan lewat email, dan membutuhkan waktu yang lebih singkat bila dibandingkan dengan tukar menukar biodata dalam bentuk hardcopy. Contoh format biodata/CV ta’aruf yang biasa saya gunakan bisa diunduh di link ini: www.biodata.myQuran.net.

4. Mencari Perantara/Pendamping
Dari Jabir Bin Samurah Radhyallahu’anhu, dari Rasulullah bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, karena syaitan akan menjadi ketiganya” (Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi).
Aktivitas berduaan/khalwat antara non mahram rawan sekali akan bisikan setan. Tidak hanya dalam bentuk “khalwat real/nyata”, tetapi juga dalam bentuk “khalwat virtual/maya” lewat media sosial ataupun media komunikasi lainnya. Karena itu, proses ta’aruf perlu didampingi oleh pihak ketiga yang akan ‘mengawal’ selama berjalannya proses sekaligus menjembatani komunikasi pihak-pihak yang berta’aruf agar proses bisa lebih terjaga. Selain itu, perantara/pendamping ini dapat berfungsi juga sebagai ‘informan’ dalam tahap ‘observasi pra-ta’aruf’ di tahap persiapan selanjutnya.

5. Observasi Pra-ta’aruf
Observasi pra-ta’aruf berfungsi untuk menggali sebanyak-banyaknya informasi mengenai sosok yang sekiranya cocok dengan kriteria yang Anda dan orang tua Anda harapkan. Perhatikan lingkungan sekitar, baik itu lingkungan rumah, lingkungan kantor, lingkungan organisasi yang diikuti, atau bisa juga lewat media sosial yang Anda gemari. Cari ‘target’ yang Anda nilai masuk kriteria yang Anda sepakati dengan orang tua, yang tentunya faktor agama jadi prioritas nomor satu.
Lakukan observasi ini secara tertutup, tidak perlu si target tahu. Bisa Anda sendiri yang melakukan, lewat pendamping Anda, ataupun dari rekan terdekat si target. Apakah si target sudah siap menikah? Apakah si target sudah boleh menikah? Apakah si target tidak dalam proses lamaran? dan informasi lainnya. Kalau kondisinya ‘available’, tinggal pastikan lewat penelusuran informan bahwa kriteria yang si target harapkan juga ada di diri Anda agar saat ‘pengajuan ta’aruf’ nanti berpeluang besar untuk diterima.
Sudah mantapkah persiapannya? Banyak-banyak berdoa ke Allah SWT agar dimudahkan ikhtiarnya, mantapkan hati, dan bismillaahirrahmaanirrahiim, saatnya eksekusi!

Tahap Pelaksanaan Ta’aruf

1.  Pekan 1: Proses Tukar Menukar Biodata
Awali proses dengan mengajukan biodata Anda ke pendamping/perantara ta’aruf agar yang bersangkutan menyampaikannya ke si target yang sudah Anda tetapkan, dan mintakan juga biodatanya untuk sama-sama istikharah-kan. Teknis proses tukar menukar biodata secara lengkap bisa dilihat di tautan ini.
Agar diingat juga anjuran di hadits ini:
Rasulullah saw bersabda: “Rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan (Hadits Riwayat Ath Thabrani)
Pinangan/lamaran pernikahan diperintahkan untuk dirahasiakan, tentunya proses ta’aruf yang mendahului pinangan tersebut juga perlu dirahasiakan. Tetap jaga kerahasiaan proses ta’aruf yang Anda jalani hingga pengumuman pernikahan Anda nanti.

2. Pekan 2: Proses Mediasi Ta’aruf Online
Adanya kemajuan teknologi internet bisa dimanfaatkan dalam tahapan proses ta’aruf ini. Untuk lebih memantapkan hati, pendamping ta’aruf bisa memfasilitasi diskusi dan tanya jawab lewat perantaraan email pendamping di pekan kedua. Teknisnya bisa seperti ini : Akhwat menyampaikan pertanyaan yang ingin didiskusikan lewat email ke email si pendamping -> Pendamping meneruskan pertanyaannya ke email Ikhwan -> Ikhwan menjawab pertanyaan Akhwat sekaligus menyampaikan pertanyaan ke Akhwat lewat email pendamping -> Akhwat menjawab pertanyaan Ikhwan sekaligus menyampaikan pertanyaan tambahan ke Ikhwan -> dan seterusnya hingga kedua pihak merasa mantap hatinya untuk melanjutkan proses.

3. Pekan 3: Proses Ta’aruf Langsung/Mediasi Ta’aruf Offline
Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu bahwasannya beliau melamar seorang wanita maka Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam pun berkata kepadanya “Lihatlah ia (wanita yang kau lamar tersebut) karena hal itu akan lebih menimbulkan kasih sayang dan kedekatan di antara kalian berdua.”
Pekan ketiga dapat dimanfaatkan untuk proses ta’aruf secara langsung/ta’aruf offline perdana, tentunya setelah kedua belah pihak merasa mantap untuk lanjut proses setelah proses tukar menukar biodata dan bertanya jawab lewat email. Sosok si target mungkin saja selama ini hanya dikenal lewat media sosial saja, sehingga perlu Anda ketahui bahwa sosoknya memang nyata. Atau mungkin sudah kenal, tapi hanya kenal selintas saja dan belum terlalu jauh. Dengan adanya ta’aruf offline maka kondisi nyata pihak yang berta’aruf dapat diketahui lebih jauh dibandingkan dengan hanya melihat beberapa halaman biodata saja.
Teknis proses ta’aruf secara langsung dan panduan bagi mediator ta’aruf offline dapat dilihat di tautan ini.

4. Pekan 4: Proses Istikharah
Pekan keempat dapat Anda gunakan untuk istikharah, menimbang-nimbang kembali proses yang telah Anda jalani, apakah mantap untuk melanjutkan proses atau tidak. Pekan ini bisa Anda manfaatkan juga untuk menggali informasi lebih jauh ke rekan terdekat si target, bisa dari saudaranya, tetangganya, ataupun rekan kerjanya. Apabila sama-sama menemukan kemantapan untuk melanjutkan proses, maka dapat dilanjutkan ke proses ta’aruf ke keluarga di pekan berikutnya.

5. Pekan 5: Proses Ta’aruf Ikhwan ke keluarga Akhwat
Pekan kelima bisa mulai dimanfaatkan untuk bersilaturahim ke keluarga masing-masing, karena sejatinya proses ta’aruf tidak hanya melibatkan si ikhwan dan si akhwat saja, tetapi juga keluarga kedua belah pihak. Untuk awalan proses ta’aruf keluarga, si ikhwan bisa bersilaturahim ke pihak akhwat terlebih dulu dengan didampingi rekan terdekat, belum perlu membawa serta pihak keluarga ikhwan agar keluarga akhwat tidak ‘kaget’ karena kedatangan keluarga besar ikhwan yang baru sekali itu bertemu. Kesempatan pertama diberikan ke si ikhwan dengan pertimbangan keluarga akhwat yang cenderung lebih banyak pertimbangan dibandingkan pihak keluarga ikhwan yang cenderung menyerahkan urusan jodoh ke si ikhwannya sendiri.
Di agenda silaturahim ini, pihak keluarga akhwat berkesempatan untuk lebih mengenal si ikhwan, gali sebanyak-banyaknya informasi mengenai si ikhwan sehingga pihak keluarga akhwat bisa mengetahui seperti apa profil si ikhwan ini. Bagi ikhwan yang ‘kreatif’ bisa saja dibuat semacam ‘video testimonial’ dari saudara, tetangga kanan kiri, pengurus masjid, ataupun rekan kerjanya, dan diputarkan saat silaturahim untuk menggambarkan sosok si ikhwan menurut pandangan keluarga, tetangga, pengurus masjid, dan lingkungan kerja. Bagaimana kebiasaannya di rumah, bagaimana interaksinya dengan tetangga, bagaimana aktifnya dia di masjid, dan bagaimana pula aktivitasnya dalam dunia kerja bisa diketahui dari beberapa orang tersebut.
Apabila dalam satu kali silaturahim belum bisa meyakinkan pihak keluarga akhwat, bisa diagendakan beberapa kali silaturahim di pekan ini, tentunya tetap dengan adanya pendamping. Bisa juga pihak keluarga akhwat dipersilakan untuk menelusuri secara langsung ke orang-orang tersebut, ataupun lewat ‘utusan’ keluarga yang tepercaya agar informasi yang didapat lebih valid.

6. Pekan 6: Proses Ta’aruf Akhwat ke Keluarga Ikhwan
Apabila tanggapan keluarga akhwat positif, maka gantian pihak akhwat yang didampingi untuk bersilaturahim ke keluarga si ikhwan di pekan keenam. Agendanya serupa, yaitu agar keluarga pihak ikhwan bisa mengetahui seperti apa profil si akhwat itu. Sama seperti proses silaturahim sebelumnya, beri kesempatan pihak keluarga ikhwan untuk lebih mengenal si akhwat, gali sebanyak-banyaknya informasi mengenai si akhwat sehingga pihak keluarga bisa mengetahui seperti apa profil si akhwat ini.

7. Pekan 7: Proses Ta’aruf Antar Kedua Keluarga
Apabila tanggapan keluarga ikhwan juga positif ke si akhwat, maka di pekan keenam bisa diagendakan silaturahim antar kedua keluarga. Pihak ikhwan bersilaturahim ke keluarga pihak akhwat dengan didampingi keluarganya, untuk awalan tentunya belum perlu membahas masalah khitbah dan pernikahan agar keluarga pihak akhwat tidak ‘kaget’. Manfaatkan agenda ini untuk ta’aruf antar kedua keluarga, berikan kesempatan kedua keluarga untuk mengenal lebih jauh kondisi keluarga yang lain.

8. Pekan 8: Proses Khitbah/Lamaran
Apabila tanggapan kedua keluarga positif, si ikhwan tidak perlu ragu lagi untuk menyatakan keseriusan dalam bentuk khitbah/lamaran di pekan kedelapan. Pihak keluarga besar ikhwan (dengan jumlah keluarga yang lebih banyak dari silaturahim sebelumnya) bersilaturahim ke pihak akhwat untuk mendampingi pihak ikhwan dalam menyatakan lamarannya. Karena sebelumnya sudah dikondisikan dan sama-sama positif tanggapannya, insya Allah proses lamaran akan berjalan lancar & lamaran akan diterima. Jangan lupa sepakati tanggal menikah juga di acara lamaran ini, tentunya diikhtiarkan sesuai target awal yaitu sebulan lagi. Kalaupun kedua keluarga menginginkan acara yang cukup besar yang membutuhkan banyak persiapan, bisa dikondisikan agar bulan depan setidaknya bisa diselenggarakan akad nikah dulu dan walimahnya bisa menyusul setelahnya.

9. Pekan 9 – 11: Proses Persiapan Pernikahan
Proses persiapan pernikahan cukup dalam rentang waktu ini. Insya Allah dengan koneksi Anda yang luas akan ada banyak rekan yang siap membantu. Berkoordinasilah dengan calon pasangan dalam hal-hal yang diperlukan seperti halnya dalam menyiapkan undangan dan penyebarannya, berapa anak yatim dan dari panti asuhan mana yang akan diundang untuk diberi santunan, menyiapkan jamuan, dekorasi, dan hal-hal lain yang penting dikoordinasikan.
Tidak perlu menanyakan “Apakah Akhi sudah shalat subuh di masjid?”  atau “Apakah ukhti sudah selesai tilawah 1 juz hari ini?” yang membuat desiran hati yang belum ‘halal’ selama masa penantian, karena insya Allah calon pasangan yang Anda pilih karena agamanya tidak akan melupakan hal itu. Tetaplah jaga hati dan interaksi hingga hari pernikahan tiba, karena sebelum ijab kabul terucap syariat tetaplah membatasi. Bila khawatir tidak dapat menjaga hati, koordinasikanlah persiapan pernikahan dengan perwakilan pihak keluarga calon pasangan, tidak langsung dengan si calon pasangan.

10. Pekan 12: Hari Pernikahan 
Apabila semua tahapan proses berjalan lancar, insya Allah ijab kabul dapat terucap di pekan keduabelas. 
“Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair (Semoga Allah memberi berkah padamu, dan semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Ia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan)”
Apakah pemaparan di atas sekadar teori saja, prakteknya yang susah? Tidak juga. Berikut ini beberapa pengalaman kami (saya & istri) dalam mendampingi proses ta’aruf offline, setelah sebelumnya tukar menukar biodata dan mediasi online:
  1. Pasangan pertama: Kami dampingi pertemuan offline perdananya di salah satu gerai bakso daerah Cempaka Putih tanggal 28 Oktober 2010, alhamdulillah menikah tanggal 13 Februari 2011. (Proses lebih dari 12 pekan, salah satunya karena faktor jarak kedua belah pihak yang terpisah lumayan jauh, Jakarta – Jogja)
  2. Pasangan kedua: Kami dampingi pertemuan offline perdananya di salah satu masjid daerah Menteng tanggal 27 April 2011, alhamdulillah menikah tanggal 9 Juli 2011. (Proses kurang dari 12 pekan)
  3. Pasangan ketiga: Kami damping pertemuan offline perdananya di salah satu masjid daerah Bekasi tanggal 2 Februari 2013, Alhamdulillah menikah tanggal 12 Maret 2013.  (Proses kurang dari 12 pekan)
Insya Allah, ikhtiar 12 Pekan Meraih Sakinah bisa tercapai apabila dipersiapkan dengan mantap, diikhtiarkan dengan sigap, diiringi doa yang terus terucap,  dan jika Allah berkehendak bisa dijalani dalam sekejap.
Semoga bermanfaat, wallahua’lam bishawab.

Selasa, 24 Maret 2015

Aksi Jalan Anak IPB ~ #SP1JKW

Saatnya Mahasiswa Turun ke Jalan - "Hidup Mahasiswa"
Kami akan selalu ada untuk Kepentingan Rakyat. Bukan untuk Koalisi Parlemen atau Kendaraan Partai Politik. Karena kami membawa Sumpah Suci. Sumpah untuk Kesejahteraan Rakyat.

Beberapa tuntutan saat aksi tempo hari :
(1) Stabilitas Kurs Rupiah ~ kini mencapai hampir 14rb. Dengan begitu, hutang negara meningkat, harga bahan pokok dan lainnya juga meningkat
(2) Turunkan dan Stabilkan Harga Beras yg semakin naik
(3) Penuhi Janji-Janji Manis JKW-JK
(4) Damaikan kedua Kubu di Parlemen KMP (Koalisi Merah Putih) dan KIH (Koalisi Indonesia Hebat) yg kian membingungkan dan merugikan rakyat
(5) Berantas Tuntas Kasus Korupsi. Ada Upaya "Pelemahan KPK".. Ada Apa...?
(6) Ambil Kebijakan dan Sikap Tegas - Terutama dalam mengadapai Antek-Antek Asing
(7) KAMI SIAP "MENURUNKAN" ANDA..!! #SP1JKW
(dll)

Kami Mahasiswa Mahasiswi Indonesia Bersumpah : 
1. Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.

Kami Mahasiswa Mahasiswi Indonesia Bersumpah : 
2. Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.

Kami Mahasiswa Mahasiswi Indonesia Bersumpah : 
3. Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.


Maestro Convection - Collection

Alhamdulillah ...
Rezeki Ga Bakal Salah Alamat ...























Sedikit Komentar Dosen

Sedikit bahas omongan Dosen pas kuliah tadi :
Dosen : "Saya bingung lihat Mahasiswa IPB yg Demo tempo hari lalu menuntut Harga Beras Turun. Sebenarnya mereka menuntut turunin harga untuk melindungi konsumen. Lalu bagaimana dengan nasib produsen (petani, dll)? Bukannya bagus kalo harga Beras naik, dengan begitu petani kan sejahtera? Bukankah kalian Mahasiswa Pertanian?"

~~Sedikit tanggapan :
**Di satu sisi memang benar, kalo petani diuntungkan. Namun lihat saja relita sekarang. Apakah petani sudah sejahtera? Bukannya yg untung tinggi itu di tengkulak dan Middle Man...? Perlu benahi sistem rantai distribusi dan controlling kuat terhadap dunia pasar
**Menurut saya, yg perlu dibenahi adalah sistem dan Kebijakan Pemerindah dalam membuat kebijakan Supply dan Demand yg Optimal. Menjaga harga pasar, melindungi konsumen dan melindungi produsen. Bukan kah kalian "Pejabat-Pejabat" negri ini telah dipilih dan diamanahkan untuk memikirkan itu semua? Bukankah kalian memiliki kapasitas yg mumpuni? Lalu, mengapa kalian mau diberi amanah tersebut?
**Masalah berlanjut bukan pada pangan konsumen semata, Coba lihat masyarakat "miskin" semakin sulit untuk makan kan? Dan juga berbagai kebutuhan pokok kini naik. Beras miskin yg diberikan kok banyak "batu" nya? Ini mau "memberantas" kemiskinan namanya dengan cara "membunuh"...
**Pada Demo (saya lebih sepakat dengan kata Aksi) waktu lalu, bukan hanya Beras yg kita tuntut, namun (1) Harga Rupiah Melemah, Dollar hampir mencapai 14rb. Berarti hutang Negara makin naik kan? Kebutuhan Pokok juga naik kan? (2) Kerukunan 2 Koalisi KMP dan KIH di Parlemen yang kian jatuh anjlok mementingkan kepentingan golongannya. Sehingga masyarakat bingung dan dirugikan (3) Ketegasan Bpk Presiden JKW dalam mengambil langkah untuk Kebaikan Negeri ini (4) Jangan Mau diperalat Antek-Antek Asing (kayaknya makin jelas)

*CMIIW

What do you think...?

Iklan

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites