.

.

Muhammad : 7

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik [Al-Imran : 110]

As-Shof : 4

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.[As-Shof : 4]

Bergerak atau Tergantikan

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Hidup Mulia atau Mati Syahid

Ketika Kau Lahir di Dunia dengan Tangisan, Dunia Gembira Riang Menyambutmu. Ketika Kau Gugur sebagai Pahlawan, Dunia Mengangisimu, Namun Ruhmu gembira menyambut Syurga-Nya

Kita adalah Penyeru

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik [Al-Imran : 110]

Senin, 10 Maret 2014

Golput? Gimana Indonesia Mau Maju Bro Sis...?

Berikut ini adalah Video tentang #AntiGolput karya LDK Al-Hurriyyah IPB
Chek it Out...
Golput? Gimana Indonesia Mau Maju Bro Sis...? 


Memulai Media Kebenaran - Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam (Fadhilah Zein)

KIBLAT.NET, Jakarta – Berada dalam posisi nyaman, punya jabatan tinggi, bergaji hampir puluhan juta, biasanya membuat seseorang tidak lagi memikirkan idealisme. Kebanyakan orang justru akan mempertahankan posisinya seperti itu, apalagi di tengah arus materialisme yang terus melanda umat manusia.
Namun, seperti dilaporkan islampos.com, berbeda dengan sosok pria satu ini, yang rela melepaskan itu semua demi sebuah idealisme yang berasal dari pemahamanannya tentang Islam. Sosok tersebut adalah Mohamad Fadhilah Zein, sosok manusia yang telah malang melintang dalam dunia jurnalisme dan terakhir posisinya pernah sebagai news producer untuk salah satu televisi nasional ternama yang ada di Indonesia.
Bagi Fadhil – panggilan akrab beliau – pemberitaan media massa tentang umat Islam sangat tendensius dan tidak berimbang. Media massa di Indonesia, sengaja atau tidak tidak, telah bertindak zalim terhadap umat terbesar di Republik ini. Dan inilah salah satu alasan utama dirinya lebih memilih untuk mundur dari posisi nyamannya sebagai salah satu ‘petinggi’ di media. Mungkin sebagian orang akan menganggap dirinya bodoh keluar dari pekerjaannya, namun bagi Fadhil keberpihakan terhadap umat dan idealisme lebih utama daripada jabatan dan harta yang berlimpah.
Pasca mundur sebagai new producer salah satu televisi swasta, Fadhil yang telah lama merasa terjadi pertentangan batin di dalam dirinya sewaktu melihat kezaliman media terhadap pemberitaan umat Islam termasuk televisi tempat dia dulu bekerja, mulai mengumpulkan fakta-fakta dan bukti kezaliman yang dilakukan media terhadap umat Islam. Dan akhirnya untuk melampiaskan gejolak di dalam hatinya serta sebagai upaya mengedukasi masyarakat tentang tidak adilnya media terhadap umat Islam, Fadhil memilih membuat sebuah buku berjudul “Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam.”
Dalam bukunya setebal hampir 200 halaman tersebut, Fadhil memaparkan secara gamblang banyak kasus tentang bagaimana media massa mainstream (baca: sekuler) ketika memberitakan segala sesuatu yang terkait umat Islam. Hampir semua pemberitaan media massa arus utama tersebut selalu menyudutkan umat Islam. Sebagai contoh pemberitaan kasus terorisme, FPI, penyegelan gereja Yasmin dan lain sebagainya.
Tentu saja harus ada upaya dari umat Islam untuk mengcounter semua pemberitaan yang cenderung banyak salahnya itu. Menurut Fadhil harus ada revolusi media. Dan revolusi media tidak akan pernah terjadi di media arus utama yang lebih sibuk dengan popularitas, rating dan uang. Dan revolusi media itu, menurutnya ada di tangan jurnalis muslim dan media massa Islam. Karena menurutnya media dan jurnalis Muslim lah yang seharusnya menjadi pembela Islam dan umat Islam yang bekerja penuh dedikasi dan keikhlasan meski dihadapkan pada banyak keterbatasan. (qathrunnada/kiblat.net)

Overfishing Melanda Kelautan Indonesia

Artikel ini saya tulis ketika diberikan tugas oleh Dosen Pengantar Ilmu Perikanan dan Kelautan. Saat itu saya baru menduduki bangku kuliah di semester 4 di minggu ke 2. Berikut pembahasan seputar isu terpopuler mengenai perikanan dan kelutan.
Penangkapan ikan di lautan yang berlebihan atau yang sering kita kenal dengan nama overfishing telah membawa petaka besar bagi perikanan dan kelautan di Indonesia. Menurut para relawan dari Greenpeace mengatakan bahwa, “Penyebab utama Penangkapan Ikan Berlebih (overfishing) adalah meningkatnya jumlah armada dan kapasitas penangkapan namun tidak diikuti dengan upaya yang optimal untuk melakukan pengendalian dan penentuan jumlah armada, kapasitas, metoda, alat, wilayah, waktu, jenis ikan dan kuota tangkap”. Pauly, et al., 2002, mengatakan bahwa “Kegiatan perikanan (baca: penangkapan ikan) sebenaranya adalah merupakan suatu kegiatan pengejaran atau perburuan hewan air, seperti perburuan hewan-hewan darat lainnya seperti rusa, kelinci atau hewan-hewan lainnnya di hutan.”
Oleh karena itu, kondisi ovefishing sangat terkait dan dipicu oleh apa yang lazim kita kenal dengan sebutan IUU (illegal, unreported & unregulated) fishing, dimana armada tangkap suatu negara melakukan pencurian atau penjarahan ikan di wilayah suatu negara lainnya tanpa izin, sebuah armada melakukan penangkapan ikan dengan cara, alat dan bahan yang merusak dan tidak mematuhi ketentuan peraturan yang telah ditetapkan oleh peraturan perundangan, serta tiadanya pelaporan hasil tangkapan dengan benar dan transparan oleh suatu armada tangkap kepada otoritas terkait. Akibat kegiatan yang berlebihan ini, kondisi perikanan dan kelautan di dunia mengalami kondisi yang kritis. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan mengalami kepunahan bagi spesies-spesies yang ada di lautan.
Hilborn, 1985, mengungkapkan bahwa “Krisis perikanan cod dan salmon di Canada pada tahun 1980an sebenarnya bukanlah karena ketidak mampuan model dalam memperediksi ekologi semata tapi karena dinafikkannya aspek perilaku nelayan ini dalam pengelolaan sumberdaya ikan.”

Kegiatan overfishing yang sudah terbukti membuat kondisi kritis pada perikanan dan kelautan ini harus segera tanggulangi dengan serius. Upaya penangkapan ikan untuk kegiatan perokonomian dan memenuhi kebutuhan hidup pada dasarnya memang diperbolehkan. Namun jika tidak diiringi dengan upaya melestarikannya akan berdampak sangat buruk. Produksi ikan akan terahir secara alamiah, hanya saja keberlangsungan regenerasi ikan tersebut untuk mencapai dewasa dan melahirkan generasi selanjutnya sering mengalami kegagalan. Aktivitas overfishing inilah yang menjadi faktor penyebab terbesar dalam kegagalan kondisi diatas. Beberapa motif yang sering terjadi adalah karena persaingan industri negera-negara di dunia dalam memajukan negaranya dan kegiatan ekonomi pengusaha dengan memanfaatkan perikanan dan kelautan di dunia.
Padahal Pemerintah Indonesia berniat untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia pada tahun 2015 (Republika, 2012). Impian tersebut dinilai sulit dicapai oleh pengganti Fadel, Sharif Cicip Sutarjo.  Menurut Sharif, hasil produksi perikanan Indonesia saat ini baru menempati urutan keempat di dunia dengan 9,5 juta ton per tahun, terdiri dari 5,5 juta ton hasil perikanan tangkap dan empat juta ton produk budidaya perikanan.  Cina memiliki kondisi laut yang lebih kecil dibanding dengan Indonesia. Namun, Cina jauh melampaui produksi perikanan Indonesia. Cina bisa mencapai 16 juta ton per tahun? Sharif menyebut perbedaan prasarana dan sarana pendukung menjadi pembedanya.  Cina, kata Sharif, memiliki kapal-kapal berukuran di atas 30 GT yang sanggup melaut hingga ke seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia, sebagian besar dari 500 ribu kapal laut sebagian besar berukuran di bawah 30 GT.  Akibatnya, kemampuan melaut kapal di tanah air sulit menandingi kemampuan kapal yang dimiliki Cina (Republika, 2012).
Banyak dampak buruk yang akan terjadi di masa mendatang jika kegiatan overfishing terus terjadi di lautan Indonesia dan dunia. Seakarang kita bisa merasakannya sedikit demi sedikit. Di masa mendatang dampak krisis ini akan menjadi masalah yang sangat serius. Bisa ditafsirkan dari kondisi sekarang bahwa masa depan perikanan di Indonesia akan berkurang drastis dan mungkin saja banyak spesies bisa punah.
Upaya penanggulangan ini memang sangat diperlukan. Mulai dari upaya peraturan yang dibuat, peringatan, kesepaktan multilateral negara, dan sebagainya. Namun hal yang lebih penting dan mendasar adalah prilaku dari subjek yang melakukannya. Berikut akan dipaparkan beberapa solusi penaggunalangan overfishing.
Bersikap Adil dalam Melakukan Penangkapan Ikan
Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya (Syahidah, 2008). Inilah upaya penyadaran yang sangat penting bagi para nelayan. Tidak berlebihan ketika menangkap ikan di lautan. Tidak menggunakan peralatan yang membahayakan bagi segala spesies yang berada di lautan, seperti bom peledak.
Memiliki Karakter Nelayan yang Spiritualis
            Nelayan yang memiliki jiwa spiritualis yang kuat, tidak akan melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap kondisi perikanan di lautan. Karena mereka yakin bahwa akan selalu ada yang mengawasi mereka walaupun tidak ada yang meihatnya di lautan, yaitu Allah. Setiap aktivitasnya akan diniatkan untuk mencari ridho-Nya. Sehingga dari jiwa spiritualis ini akan terahir nelayan-nelayan yang berkarakter mulia.
Saling Menghargai dan selalu Bersyukur
            Laut dan segala yang ada di bumi ini adalah pemberian dari Allah untuk dimanfaatkan manusia dalam menjalankan segala aktivitasnya. Termasuk memenuhi kebutuhan hidup. Alangkah indahnya jika hidup antar bernegara kita saling menghargai satu dengan yang lainnya. Tidak melakukan eksploitasi yang berlebihan di alam. Bahkan di negara orang lain. Kondisi ini terjadi karena kurangnya rasa syukur dalam diri pada diri pelaku overfisihing. Jika kita saling menghargai dan selalu bersyukur atas segala sesuatu, makan akan terlahirlah kesadaran yang mendalam.
Bermanfaat bagi Orang Lain
            Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain. Oleh karena itu, kehidupan antar sesama selayaknya kita saling bahu membahu dalam rangka menyejahterakan kehidupan. Saling terus terang dan membantu. Sehingga dari nelayan, pemerintahan, pebuat kebijakan, pelaku usaha dan orang-orang yang terlibat dalamnya akan mendapatkan manfaat yang besar.

Media di Indonesia? Kembalilah kepada Khittah Kebenaran

"Revolusi media tidak akan pernah terjadi di media arus utama...
Mereka lebih sibuk degan Popularitas, Rating, dan Uang... 

Revolusi media lahir dari pinggir, dan dilakukan oleh sekelompok orang yang dianggap tidak ada. Siapakah mereka? Mereka adalah Jurnalis Muslim yang senantiasa membela Kebenaran,
penuh dedikasi dan keikhlasan meski dihadapkan pada banyak keterbatasan.

Salam hangat penuh cinta untk mereka.
 Mari kita sambut musim semi Indonesia."

dikutip dari buku Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam-
(M. Fadhilah Zein, Reporter TV One)

Senin, 20 Januari 2014

Dan Foto Itu..

Bismillah..

Dan foto itu kini terus membayangi setiap langkah hidupku...
Foto yang ku ambil ketika sebelumku terbujur lemah karena "virus" yang menyerang diriku...
Virus yang membuat tubuh ini tak bisa bergerak lebih...
Hanya berbaring diri di atas keranjang tempat tidur selama lebih dari 4 bulan...
Mata ku mengemuning, dan ku tak bisa berdiri lebih dari 3 menit, bahkan untuk duduk pun aku sudah sangat payah... Hasil laboratorium menunjukan bahwa aku terkena Virus Hepatitis A kolestatis (dengan rasa gatal di beberapa bagian tubuh)... dengan sediki infeksi dalam hatiku.. Hasil scan menunjukan bahwa hati bagian kanan ku terdapat goresan cukup besar... Mungkin ini infeksi karena telat penanganan saat tinggal di Asrama kuliah...

Kedua orang tua ku yang sangat sabar menunggu anak nya yang "lemah" ini untuk segera bangun dan tersenyum lebar seperti dahulu... Mereka ingin melihat riang nya hariku kembali...
Bahkan sampai ku mengambil cuti ketika baru beranjak masuk di kuliah smester 2...
Mereka tetap sabar menunggu riangku... Bahkan sampai mengorbankan pekerjaan mereka...
Masih ku teringat ketika opname pertama, kedua orang tua ku bergantian berjaga untuk menunggu ku berkata "Umi, Abi, aku sudah sehat kembali..."

Ku lihat pipi mereka kini mulai mengerut dan terkadang air membanjiri pipi mereka... Namun, mereka mencoba menyembunyikannya dari pandang ku...

Suatu malam, Umi memberiku sebuah minuman yang katanya ini adalah dapat membuat daya tahan tubuh menjadi lebih kuat... Namun, setelah minum air tersebut tiba-tiba diriku merasakan sakit yang luar biasa.. Bahkan aku teriak menangis kesakitan.. Menggulung-gulung di kasur dan seolah-olah perutku tertusuk ribuan jarum... Seolah-olah diakibatkan karena minuman tersebut.. Bahkan hampir saja ku putus asa.. Namun mereka mengatakan, "Sabar ya Nak, ini Ujian dari Allah"

Saat orang tua ku datang, mereka merasa sangat bersalah karena merekalah yang memberikan minuman itu... Aku melihat kembali air mata itu keluar dari mata Umi... Padahal mereka hanya ingin membuatku lebih baik.. Tapi takdir berkata beda... Setelah beberapa saat, aku mencoba untuk memejamkan mata.. Hingga akhirnya sakit di perutku kini menghilang...


"Ya Allah, sungguh tak bisa ku bayangkan seberapa sabarnya mereka menunggu kesehatanku kembali lagi. Empat bulan bukanlah waktu yang sedikit. Namun mereka sungguh sabar menunggu diriku yang lemah ini."

"Ya Allah, aku ingin memberikan kado terindah untuk mereka"

Setelah itu aku menemukan sebuah tulisan hadist Rasulullah dalam sebuah buku :

“Akan datang Al-Qur`an pada Hari Kiamat seperti seorang lelaki yang pucat-pasi, dia berkata kepada teman (penghafal)nya, “Apakah kamu mengenalku? Saya adalah penjaga malammu, pendahaga siangmu. Dan sesungguhnya setiap pedagang itu di belakang dagangannya, sedang hari ini saya di belakang setiap pedagang.” Maka diberilah dia kerajaan di kanannya. Keabadian di kirinya, dan diletakan di atas kepalanya mahkota keagungan, serta diberilah kedua orangtuanya busana yang tidak sebanding dengan dunia dan seisinya. Lalu keduanya berkata. “Wahai Tuhan, dari mana ini?”, maka dikatakan, “Itu disebabkan kalian mengajarkan Al-Qur`an kepada anak kalian. “Dan dikatakan pada Hari Kiamat kepada teman (penghafal) Al-Qur`an, “Bacalah! Dan naiklah ke beberapa tingkatan! Serta tartilah! Sebagaimana engkau membaca tartil di dunia, sesungguhnya tempatmu di sisi akhir ayat yang bersamamu.”

Sungguh Ya Allah, hamba ingin memakaikan mahkota dan busana yang tiada tandingannya itu untuk mereka. Karena sudah pasti tidak mungkin ku dapat membalas kebaikan dan kesabaran mereka di dunia ini. Walaupu Miliyaran rupiah yang ku keluarkan, tetap tak bisa membalas kebaikan mereka.

Oleh karena itulah ku memutuskan untuk menjadi seorang penghafal Qur'an dengan sungguh-sungguh sejak saat itu.

"Mudahkanlah Ya Allah..."

Kado Terindah sebagai Penghafal Qur'an

Sudahkah kita dapat membalas kebaikan jasa orangtua kita yang melahirkan dan merawat kita hingga besar? Bahkan ketika kita sedang sakit terbujur lemah, mereka sungguh sabar menunggu kita membuka mata dan dapat ceria kembali. Dalam artikel ini, akan disampaikan, bahwa ada beberapa kado terindah yang dapat kita berikan kepada orangtua kita dengan menjadi Penghafal Al-Qur`an.

Berikut ini adalah beberapa motivasi bagi kita untuk menjadi Ahli Qur’an :

Memberikan Busana yang Tiada Tandingannya Kepada Orangtua
Orang yang paling beruntung ketika ada seorang anak yang menghafal Al-Qur’an adalah orangtuanya. Sungguh baginda Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Akan datang Al-Qur`an pada Hari Kiamat seperti seorang lelaki yang pucat-pasi, dia berkata kepada teman (penghafal)nya, “Apakah kamu mengenalku? Saya adalah penjaga malammu, pendahaga siangmu. Dan sesungguhnya setiap pedagang itu di belakang dagangannya, sedang hari ini saya di belakang setiap pedagang.” Maka diberilah dia kerajaan di kanannya. Keabadian di kirinya, dan diletakan di atas kepalanya mahkota keagungan, serta diberilah kedua orangtuanya busana yang tidak sebanding dengan dunia dan seisinya. Lalu keduanya berkata. “Wahai Tuhan, dari mana ini?”, maka dikatakan, “Itu disebabkan kalian mengajarkan Al-Qur`an kepada anak kalian. “Dan dikatakan pada Hari Kiamat kepada teman (penghafal) Al-Qur`an, “Bacalah! Dan naiklah ke beberapa tingkatan! Serta tartilah! Sebagaimana engkau membaca tartil di dunia, sesungguhnya tempatmu di sisi akhir ayat yang bersamamu.”

Subhanallah. Sungguh Maha Besar Allah! Alangkah mulianya jika kita bisa menjadi Ahli Qur’an. Kita bisa memberikan kemuliaan yang tak terduga bagi kedua orangtua kita disaat mereka tidak menyangkanya.

Menjadi Syafaat di Hari Kiamat
            Di hari kiamat kelak, Al-Qur`an akan memberi syafaat kepada pembacanya. Yaitu di hari seseorang lari dari saudara, ibu, bapak, kekasih, temannya, dan siapa saja. Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Puasa dan Al-Qur`an akan menolong seorang hamba. Puasa berkata, “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya saya mencegahnya untuk makan dan minum di siang hari, maka ijinkan saya untuk menolongnya. Dan Al-Qur’an berkata, “Tuhan-ku, sesungguhnya saya mencegahnya untuk tidur di keheningan malam, maka ijinkan saya untuk menolongnya.” Maka keduanya menolong (hamba itu).”

Bersama Rombongan para Malaikat yang Mulia
Ketia seseorang menghafal Al-Qur`an dan menguat hafalannya, maka dia bersama Safaroh yang mulia lagi baik. Safaroh adalah rombongan malaikat pilihan Allah yang dipercaya membawa mushaf suci. Bahkan, bagi orang yang terbata-bata, menghafal dan membacanya juga tidak terhalangi mendapat pahala, baginya dua pahala. Rasulullah SAW bersabda :

“Orang yang mahir Al-Qur`an bersama malaikat Safaroh yang mulia lagi baik, adapun pembaca Al-Qur’an yang terputus-putus dan terasa berat, baginya dua pahala.”

Al-Qur’an adalah Penyembuh
            Maha Suci Allah. Al-Qur’an dapat digunakan juga sebagai penyembuh penyakit jika kita memiliki rasa keyakinan dan ikhlas karena Allah.

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zaim selain kerugian.” (Al-Israa` : 82)

“Nabi Muhammad SAW meruqyah dirinya sendiri tatkala mau tidur dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas lalu beliau tiupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian usapkan ke seluruh tubuh terjangkau oleh kedua tangannya. (HR. Al-Bukhari).”

Kata ruqyah berasal dari bahasa Arab raqa, raqyan, ruqiyyan wa ruqyatan yang berarti bacaan. (Ahmad Warson Munawwir. 1984. Kamus Al-Munawwir, Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progresif. 562.).Adapun makna ruqyah secara etimologi syariat adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. (Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh. Ar-Ruqyah wa Ahkamuha hal. 4)Tentunya ruqyah yang paling utama adalah doa dan bacaan yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Ibid, hal. 5)
Ruqyah adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disyari’atkan untuk dilakukan bagi setiap muslim pertama kali saat dirinya merasa sakit, baik sakit fisik maupun karena gangguan jin.
Ketika sakit karena gangguan jin, maka yang harus kita yakini bahwa setan itu adalah musuh kita dan tipu dayanya sesungguhnya sangatlah lemah. (www.therapy-centerku.com)

Penghafal Al-Qur`an Tidak Akan Tersentuh Api Neraka
Nabi SAW bersabda :

“Seandainya Al-Qur`an diletakan dalam kulit, kemudian dilemparkan ke neraka, maka tidak akan terbakar.”

            Maha Suci Allah, keselamatan apakah yang lebih besar dari hal ini? Dari Abi Umamah, bahwa beliau berkata, “Bacalah Al-Qur`an, dan jangan tertipu dengan mushaf-mushaf yang ditempelkan, sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa hati yang dipenuhi Al-Qur`an.”           

Menyelamatkan Kita dari Segala Fitnah
Al-Qur`an adalah penyebab terhindarnya dari segala fitnah. Nabi SAW bersabda :

“Seseorang yang menghafal sepuluh ayat dari surat Al-Kahfi, maka akan dijaga dari Fitnah Dajjal.”

            Jika hanya menghafal dari 10 ayat surat Al-Kahfi saja bisa terhindar dari fitnah Dajjal, alangkah lebih mulianya jika kita dapat menghafal Al-Qur`an seluruhnya? Subhanallah

Sungguh mulianya bagi para penghafal Al-Qur’an. Masih banyak keuntungan lainnya dari menghafal Al-Qur`an. Adakah terbesit dalam hati kita untuk menjadi Ahli Qur`an? Jika kita lihat akhir-akhir ini, fenomena bencana di berbagai daerah Indonesia sudah mulai terjadi. Banjir Jakarta, Banjir Bandang Manado, Tsunami Aceh, Gempa Jogja, Longsor Bogor, dan berbagai bencana lainya. Bahkan banyak orang-orang sholeh yang sudah dipanggil oleh Allah SWT. Mungkinkah ini pertanda akhir zaman? Oleh karena itu, kami mengajak kepada para pembaca yang budiman untuk meningkatkan interaksi kita kepada Al-Qur`an. Menjadi penghafal Al-Qur`an. Mengisi waktu-waktu kosong kita dengan hal yang bermanfaat. Mengulang-ulangi hafalan kita di sudut-sudut rumah atau masjid setiap harinya. Muroja`ah hafalan Al-Qur`an kita di banyak waktu. Dan kemudian, insya Allah akan mendapat banyak kemuliaan sebagai Ahli Al-Qur’an. Memakaikan mahkota dan busana terindah untuk orangtua kita. [Abu Ubaidah-Media Online LDK Al-Hurriyah]
sumber :
-          Buku “Kisahku dalam Menghafal Al-Qur`an”. Penulis : Muna Said Ulaiwah. Penerbit : Pustaka Kautsar
-          www.therapy-centerku.com

www.alhurriyyah.lk.ipb.ac.id

Liburan Produktif vs Liburan Mematikan

Bismillah
::INSPIRING PEOPLE::

 
alhurriyyah.lk.ipb.ac.id | Mendengar kata “LIBURAN” mungkin identik dengan kata jalan-jalan, pulang kampung, atau bersenang-senang. Namun disadari atau tidak, liburan itu bisa berdampak buruk bagi kita jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Bahkan liburan itu dapat “membunuh” kita ketika banyak hal-hal yang tidak bermanfaat yang kita kerjakan hingga akhirnya kita terpelosok dalam jurang kemaksiatan.

Sebagai seorang mahasiswa, mungkin ketika aktif kuliah kita disibukan dengan berbagai macam kegiatan organisasi atau tugas kuliah. Setiap malam mengerjakan tugas, siangnya kuliah dan sore sampai malam hari kita sibuk untuk rapat atau kerja kelompok. Namun, coba kita fikirkan ketika waktu liburan tiba. Seolah-olah kesibukan itu semua menghilang begitu saja. Bahkan kita bingung untuk mengerjakan apa ketika sedang liburan. Disanalah “pertarungan kesibukan” dimulai. Ya, PERTARUNGAN KESIBUKAN antara Produktif atau Mematikan.
Apa yang dimaksud dengan Liburan Mematikan?
Mungkin ini hanya sebuah kiasan belaka. Maksud dari “Liburan Mematikan” ini adalah ketika kita mengisi liburan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, sehingga mengundang banyak kemaksiatan dalam aktifitas kita. Misal dalam contoh kasus nyata : Sebut saja si A yang mengisi liburannya dengan pulang kampung yang jauh. Apa salahnya kalau liburan diisi dengan pulang kampung? Kan kita rindu dengan orang tua yang sudah lama tak berjumpa. Tidak, tidak salah. Memang tidak ada salahnya. Namun hal yang harus diperhatikan adalah aktifitas apa yang kita lakukan ketika mengisi liburan tersebut. Lanjut ke dalam kisah, si A tiba di kampung halamannya. Sungguh bahagianya bertemu dengan keluarganya. Nah, inilah saatnya bagi si A untuk istirahat sejenak dari kesibukan kuliah. Setiap harinya, si A seperti robot. Pagi hari makan dan nonton TV. Siang harinya baru mandi dan makan lagi (siang) dilanjutkan tidur siang. Sorenya nonton acara Gosip di TV swasta. Hingga menjelang malam hari hanya disitu-situ saja aktifitasnya. Mungkin ada variasinya dengan main Internet, Fb, Twitter, main games, PS, Shopping, dsb.  Lebih buruknya lagi, ketika si A terayu oleh bisikan syetan untuk berbagai macam kemaksiatan. Padahal ketika aktif di kampus, si A adalah seorang Aktifis Lembaga Kemahasiswaan yang di pandang banyak orang. Inilah yang disebut dengan “Liburan Mematikan”.


Dalam berbeda kasus, Si B adalah seorang aktifis LDK (Lembaga Dakwah Kampus) di Institut Pertanian Bogor. Ketika liburan tiba, dia berencana untuk pulang kampung. Namun ada sesuatu yang berbeda. Karena kepulangannya agak telat. Karena dia harus menyusun Program Kerja (proker) terlebih dahulu di LDK. Dan setelah itu dia harus mengisi acara Seminar Nasional Kepemudaan Muslim di pulau Kalimantan sana. Sungguh singkat liburan yang dia miliki. Tiba saatnya untuk pulang kampung. Dia hanya memiliki waktu 6 hari untuk singgah sejenak di kampung halamannya. Hanya untuk melepas rasa rindu kepada orangtua dan keluarganya. Dengan kedewasaannya, dia mengatur jadwal liburannya ketika di kampung halaman. Di pagi hari, dia harus bangun jam 03.30 untuk sholat malam. Setelah itu mencoba untuk menghafal Al-Qur`an beberapa ayat. Subuh tiba, dia bergegas menuju Masjid sekitar untuk sholat jama`ah dan dilanjutkan dengan membaca Do’a Pagi Harian (Al-Ma`tsurot). Setelah itu, dia mencoba lagi untuk menghafal Al-Qur`an hingga waktu menunjukan pukul 06.00. Selanjutnya dia makan bersama keluarga tercinta dan bersenda gurau. Setelah itu dia melanjutkannya dengan membaca buku “Menjadi Pengusaha Sukses di Usia Muda” hingga waktu Dhua tiba. Sholat Dhua dan dilanjutkan belajar Desain Grafis secara mandiri. Dan begitu seterusnya dalam sehari-hari ketika liburan di rumahnya. Mengunjungi sanak saudara untuk menyambung silaturahim dan bertemu dengan teman-teman Rohis SMA nya untuk membantu kegiatan Rohis. Begitulah keseharian si B mengisi liburannya. Tanpa menghilangkan kebiasaan baiknya di kampus. Tilawah One Day One Juz, Al -Matsurot, menghafal Al-Qur`an, Sholat Jama’ah, Sholat Dhuha, Tahajud, dsb tidak dihilangkan. Sungguh sangat bernilai liburan si B. Menjalin Silaturahim dan juga bernilai ibadah (insyaAllah). Begitulah yang disebut sebagai “Liburan Produktif”.

Kisah diatas hanya sebuah contoh kisah yang sering berada di tengah kita. Mungkin tidak sepenuhnya seperti itu. Ada beberapa hal yang ditambahkan atau dikurangkan.

Namun, hal yang perlu kita perhatikan adalah, Liburan mana yang kita pilih? Liburan Mematikan atau Liburan Produktif?

Berikut beberapa refrensi kegiatan Produktif selama liburan tiba :
-          Menghafal Al-Qur`an
-          Membatu orangtua
-          Membaca Buku Islami / Umum
-          Belajar Desain Grafis
-          Searching Materi Ke-Islaman di Internet
-          Silaturahim
-          Membantu Rohis sekolah
-          Tilawah Al-Qur’an
-          Sholat Dhuha dan Tahajud
-          Zikir Pagi dan Petang (misal : Al-Matsurot)
-          Dan sebagainya

“Liburan itu bisa memiliki 2 tipe. Tipe liburan Produktif atau Liburan Mematikan”

Ingat 5 perkara sebelum 5 pekara :
“Sehat sebelum Sakit, Muda sebelum Tua, Kaya sebelum Miskin, Lapang sebelum Sempit, dan Hidup sebelum Mati”

[Abu Ubaidah – Media Online LDK Al-Hurriyyah IPB]

Iklan

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites