Malam kian pekat, hujan mulai membasahi pekarangan kami.
Temaram kian menyunyikan malamku yang satu ini. Matari telah bersemayam
dalam tidurnya yang panjang, angin pun tiada berhembus menyejukkan
jiwa-jiwa setiap insan. Yogya seakan sepi dari kerumunan orang-orang.
Ragaku, raga ini kian lemah setelah bertemu dengan tiga mata kuliah.
Lesu, letih, tak kuasa ingin kubaringkan saja jiwa ini dalam tidur yang
lelap. Orang-orang disekitarku masih terus mengobarkan tenaganya didepan
laptop menerawang berbagai macam cakrawala. Kantuk yang telah menyerang
mataku terus berkecamuk diperangi oleh semangat. Tak ubahnya aku
seperti mereka, tak ubahnya menarikan jari-jemariku diatas
keyboard laptop
merangkai kata-kata menjadi sesuatu yang berharga bagi hidupku,
mengenang kembali peristiwa hari ini yang penuh dengan makna.
Sejenak
aku mengenang berbagai macam peristiwa yang terjadi dihari ini dan
dihari lalu. Entah mengapa, dalam kenangku selalu muncul wajah-wajah
mereka, wajah-wajah yang telah membersamaiku dalam mengarungi kehidupan
diatas tempias-tempias perjuangan. Ya, aku dibuat kalut oleh mereka,
yang telah menginspirasiku menitahkan sajak-sajak pengorbanan.
Sampai
hari ini, rasa takjubku pada seluruh teman-temanku di Kesatuan Aksi
Pelajar Muslim Indonesia tak pernah terlupakan. Raganya yang lelah tiada
pernah terlihat merasa lemah. Pakaian putih abu-abunya yang lusuh tiada
pernah membuat asanya luruh apalagi runtuh. Jiwanya tegar, matanya kian
berbinar, raganya tak pernah gundah berbakti ditengah pikirannya yang
resah. Ya, itulah teman-temanku, sahabat-sahabatku yang mengatasnamakan
berada di “jalan dakwah”. Merekalah yang telah menjebakku kedalam jalan
kebenaran ketika hati, jiwa dan ragaku berada didalam jeratan kesesatan.
Jujur saja, sebelum aku mengenal mereka, aku adalah orang yang hampir
saja bersentuh hidup dalam kemurkaan. Usahlah kau tahu kedekatan apa
yang akan memurkakan hidupku.
Mereka
adalah orang-orang yang menghabiskan hidupnya dijalan. Di jalanan
daerah Jakarta yang penuh dengan penat dan kebisingan. Mereka adalah
orang-orang yang merelakan seluruh jiwa dan raganya dalam pencarian
iman. Aku tahu, mereka adalah orang-orang yang penuh dengan dosa sama
sepertiku, namun mereka memiliki spirit, berjuang dengan penuh keyakinan
untuk menebus dosa-dosa itu dengan tetap berkorban menegakkan asmaNya,
memerdekakan manusia dari lembah kejahilan akibat nafsu yang fana.
Mengajak kita, kami, bahkan mereka agar tiada melerai hati nurani dan
pikiran berhenti mengingat kehidupan selanjutnya setelah kehidupan kita
saat ini.
Masih terekam jelas
dalam benakku, ketika seorang akhwat merelakan dirinya jalan dari Depok
menuju Serpong hanya karena ingin mengikuti agenda Daurah Marhalah
KAPMI. Ketika itu, ternyata kondisinya tidaklah memiliki uang sepeserpun
untuk mengantarkan dia ke tempat tujuan. Ihwal tersebut kami -ikhwan-
ketahui ketika temannya bercerita kepada kami. Sungguh, perangai akhwat
yang luar biasa, teruji ketabahan jiwanya. Mungkin, ialah permata
harapan itu, permata diabad 21.
Selanjunya,
peristiwa yang membuatku tercengang adalah, ternyata ada seorang ikhwan
yang memberanikan diri menggoeskan sepeda ontel bututnya dari Tangerang
menuju Jakarta Selatan hanya demi mengikuti agenda syuro’ rutinan
KAPMI. Hal tersebut ia lakukan hampir setiap kali ada pertemuan, setiap
pekan. Lelah, jauh, letih, tidak membuat raganya terhenti melangkahkan
jejak kaki dalam risalah dakwahnya. Risalah dakwah pelajar ini. Risalah
yang menegakkan Kalimatullah di persada Jakarta Raya, risalah suci yang
tiada sungkan melawan tirani. Rasanya, banyak sekali peristiwa yang
membuat mata hatiku terbuka melihat nuansa juang ini.
Ada
satu cerita lagi yang membuatku tak mampu menepiskan keharuan batinku.
Peristiwa ini diperkirakan terjadi di era KAPMI sebelum angkatan 5.
Ketika itu, seorang Akhwat dalam perjalanan menuju tempat syuro’ KAPMI.
Ketika ia turun dari Metro Mini, tiba-tiba dirinya terlihat amatlah
pucat sambil memegang perutnya yang terasa kesakitan. Namun, ia tetap
melanjutkan perjalanan menuju tempat syuro’ dan mencoba menutup-nutupi
kesakitan yang sedang ia alami. Ia merasakan keperihan yang sangat
menyakiti tubuhnya. Tapi ia tetap teguh dalam perjalanan dakwahnya itu.
Sesampainya
di tempat Syuro’, ia mencoba menampakkan wajah senyumnya kepada
teman-teman akhwat yang lain tanpa memperlihatkan raut wajah akibat rasa
sakitnya itu.
Peristiwa yang
membuat batinku terkesima, tertunduk pilu adalah, ternyata ketika rapat
sedang berlangsung, dirinya merasakan kesakitan yang berlebih hingga
membuatnya pingsan dan langsung dibawakan ke Rumah Sakit yang terdekat
oleh teman-teman KAPMI. Ketika orang tuanya telah datang ke Rumah Sakit
dalam keadaan mata yang begitu lebam dan cemas, dokter memvonis bahwa
anaknya mengalami gagal ginjal yang sudah kronis dan dipastikan bahwa
hidupnya hanya mampu bertahan kurang dari satu minggu. Seluruh
teman-teman KAPMI yang sejak tadi menunggu di depan kamar rawatnya,
mendengar perihal tersebut hingga membuat sebagian mereka gemuruh penuh
dengan isak tangis.
Mereka langsung
menelepon teman-teman KAPMI yang lainnya menginformasikan perihal
tersebut. Hampir seluruh rekan-rekan KAPMI langsung menuju kamar rawat
tersebut. Suasana semakin sesak dengan tangis, suasana semakin pilu
dalam kesah. Ramai dalam keharuan. Tiba-tiba, akhwat yang sakit tersebut
terbangun, orang tuanya yang sejak tadi menangis tak kuasa melihat
wajah sang anak. Namun, dengan keluguan akhwat tersebut, ia bertanya
kepada orang tuanya perihal sakit apa yang sedang dialami dengan wajah
yang memikat, menaburkan senyum ketenangan. Mendengar hal tersebut,
orang tuanya semakin dibuat kalut dalam tangisan. Deraian air mata tiada
padam diluapi kecemasan terhadap kondisi anaknya yang kian membara.
Namun, Akwat tersebut mencoba menenangkan kedua orang tuanya dan terus
merayu mereka untuk berterus terang. Hingga akhirnya, orang tuanya pun
dibuat luluh oleh sang anak untuk menyampaikan apa yang terjadi pada
buah hatinya tersebut.
Suasana
hening, sang anak hanya focus mendengarkan sang ibu bercerita dengan
deraian air mata pilunya. Sang ibu tiada kuasa menahan diri, memeluk
erat sang anak yang sudah divonis dokter itu.
Disinilah, hatiku
dibuat kalut oleh sikap Akhwat tersebut. Ternyata, ketika ia usai
mendengar perkara penyakitnya, Akhwat tersebut justru tersenyum lebar
nan sumringah, ia hanya mampu berkata, “aku tak tahu ini berkah atau
musibah, tapi aku hanya berprasangka baik pada Allah..” tuturnya.
Teman-teman KAPMI hanya mampu menyaksikan keharuan didalam kamar
rawatnya dari balik jendela.
Sang
akhwat tersebut, meminta teman-temannya yang diluar baik ikhwan maupun
akhwat memasuki ruang rawatnya. Wajah belianya masih menampakan pesona
sumringah, seakan tiada mengingat vonis dokter terhadapnya. Air matanya
kian membasahi pipi, dengan suara sesaknya, sang Akhwat berwasiat kepada
seluruh teman-temannya,
“ Aku adalah pengembara yang mencari
hakikat, manusia yang mencari makna kemanusiaan di tengah masyarakat,
dan warga negara yang menginginkan umatnya mendapat kemuliaan,
kemerdekaan, kestabilan, dan kehidupan yang baik dalam naungan Islam
yang
hanif..
Aku
adalah perempuan bebas yang telah mengetahui rahasia keberadaannya,
kemuadian berseru, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku
hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagiNya. Dengan
itulah aku diperintah, dan aku termasuk orang-orang yang berserah
diri..
Allah jugalah yang
menghendaki, bila akhirnya aku berada di dalam barisan KAPMI, yang
membuatku berpindah dari satu medan kehidupan ke ruang kehidupan yang
lain. Dalam lingkaran jamaah ini, aku temukan diriku dalam keadaan
tersadar di atas sebuah hakikat yang hidup di dalam sanubari. Aku
temukan diri ini sebagai manusia yang terakhir kembali..
Pikiran-pikiranku
tentang kehidupan dan manusia yang ada di sekelilingku mulai berubah.
Aku pun dapat memahami bahwa sesungguhnya, kehidupan ini adalah risalah
dan seluruh manusia adalah saudaraku. Mereka adalah lahan tempatku
berdakwah, dan mereka juga adalah aset-aset Islam..
Semangat
persaudaraan yang tulus dalam jamaah ini menarik jiwaku ke dalam ruang
hati-hati yang memancarkan semangat, kesungguhan, dan perasaan yang
nikmat darinya, sehingga mengalir dalam diriku mata air kehidupan yang
membangkitkan jiwa dan asa; membakar emosi yang selama ini tenang di
dasar jiwa. Emosi yang dingin, diam diliputi oleh kebekuan dan
kemalasan, serta ketidakmampuan menampakkan diri karena terbelenggu oleh
tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak bersumber dari ajaran
Islam..
Allah memberikan
karunia ini dalam perkumpulanku dengan kalian, dengan insan-insan yang
tiada pernah luput mengarungi sajak hidupnya dengan pengorbanan. Aku
yakin, ukhuwah itu, ukhuwah yang dilandaskan iman tiada pernah terputus
meski tiadakan lagi kita bertemu..
Ayo
kawan, usahlah kalian menangis lagi, bergegaslah bergerak dan bersiap
siaga. Tugas kita dibumi ini masih banyak, masih bertumpah ruah haling
rintang yang menyambangi jejak hidup kita..
Aku, hanya memohon,
kalian doakanku dalam waktu. Tetaplah kita menjaga Izzah ini, menjaga
Izzah juang yang dalam membela Agama yang suci ini..
Kenangan ini, kenanganku bersama kalin menjadi sebuah arungan cinta yang tiada mungkin aku lupakan…”
Gemuruh
tangis mengharui seisi ruangan tersebut, para akhwat saling memeluknya,
merangkul tubuhnya erat-erat, seakan tak kuasa menyakini semua ini.
Tangis, pilu, menjadi satu. Para ikhwan pun ikut terpilukan dalam nuansa
tersebut dibalik tirai kamar rawat. Sang akhwat hanya mampu memberikan
senyum manisnya seperti sedia kala.
“..Selamat tinggal sahabatku
Ku kan pergi berjuang
Menegakkan cahaya Islam
Jauh di negeri Seberang..
Selamat tinggal sahabatku
Ikhlaskanlah diriku
Iiringkanlah doa restumu
Alloh bersama slalu..
Kuberjanji dalam hati
Untuk segera kembali
Menjayakan negeri ini
Dengan ridho Ilahi..
Kalaupun tak lagi jumpa
Usahlah kau berduka
Semoga tunai cita - cita
Raih gelar syuhada..”
Dengan
nada yang lirih, penuh dengan sayup suara yang begitu parau, para
ikhwan merenungkan lagu tersebut yang acap kali menjadi sebuah momentum
semangat perjuangan mereka. Dengan nada yang begitu lirih, senandung
yang mengheningkan suasana, tak kuasa seluruh orang yang berada dalam
ruangan tersebut matanya kian lebam berkaca-kaca, para akhwat kian tak
mampu menahan rasa kepedihan ini hingga diantara mereka tiada mampu
menyeka tangis yang mengharu membasahi wajahnya. Begitu pun para ikhwan,
yang tiada mampu menahan isak dukanya yang kian menitihkan air mata
kesatriaan.
***
Itulah nuansa ukhuwah, yang begitu mengharu biru dalam jiwa dan raga,
hingga pada akhirnya kita terjerembab dalam nuansa kebersamaan. Melawan
segala onak dan duri rintangan, menghembuskan hati dengan cinta yang
membahana terhadap sesamanya. Ya, tiadalah ukhuwah tanpa diawali
perjuangan atas nama Akidah kepada Robbnya. Sebuah petualang cinta yang
begitu indah untuk dikenang, menjadi noktah suci dalam persaudaraan.
Kini,
berbagai rangkaian ukhuwah itu telah aku temukan kembali. Kini, aku
temui semua itu diwajah-wajah yang baru satu setengah tahun aku kenali.
Ya, mereka adalah keluarga baruku, keluarga yang selama ini aku buat
susah oleh segala onak dan congkakku.
Merekalah
teman-temanku di GARDA’10, sebuah perkumpulan segelintir pemuda dan
pemudi congkak yang dihuni oleh aku, Dzikry Asyakarullah, Mohammed Hasan
Izuddin, Irfan Islami, Anggit Adi Wijaya, Aries Setiawan, Asma Azizah,
Inong Malasari, Imroatul Mukhlishoh, dan Hanna Mar’atul Husna.
Perkumpulan ini didirikan atas dasar kenangan dalam pengorbanan. Ikrar
akan persaudaraan, cinta akan keadilan, rindu akan peradaban yang
hakiki.
Ketika itu,
disinggasana itu, singgasana Gadjah Mada kami berkumpul, sore-sore
dengan matari yang kian menurunkan tubuhnya kepermukaan, ketika
burung-burung berkicau, beterbangan di awan seakan mencari sangkarnya di
hutan fakultas kehutanan yang tepat berada di singgasana itu. Awan kian
pekat keemasan menjadikan suasana bertabur keharmonisan. Kami berbagi
cerita tentang risalah juang kami masing-masing. Berbagi kisah kesah
terhadap hakikat perjuangan yang telah mendamparkan kami dalam pencarian
makna hakikat kehidupan ini. Mengejawantahkan segala keinginan hingga
akhirnya membuat kami bisa berkenalan, berkumpul, bersatu padu karena
risalah cinta ini, risalah suci Illahi Robbi.
Kami
memanjatkan asa, membangkitkan kembali semangat cita, berikrar untuk
mempererat ukhuwah kami hingga akhir hayat ini. Menancapkan semangat dan
raga untuk tiada pernah berhenti berjuang hingga kematian itu sendiri
yang akan mengakhiri jejak juang kami di dunia ini.
Hingga
akhirnya, kami memutuskan untuk sama-sama saling bersatu padu,
bersama-sama mengarungi sajak cinta Illahi ini dengan membentuk sebuah
perkumpulan untuk kami. Ya, ialah GARDA’10. GARDA’10 bisa diartikan
Gerakan Dakwah 2010, ataupun Gerakan Pemuda 2010. Kami mengambil angka
2010 karena keseluruhan dari kami adalah angkatan 2010 Universitas
Gadjah Mada. Kami pun berasal dari berbagai macam lembaga dan berbagai
macam Fakultas. Aku sendiri, berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik.
Kami adalah
orang-orang yang biasa saja. Orang-orang yang tidak memiliki kuasa
apa-apa. Kami juga hanya orang-orang lemah yang penuh salah dan dosa.
Kehadiran komunitas ini pun terlahir sebagai sebuah generasi cadangan,
generasi yang berikrar dan disiapkan untuk selalu siap siaga berjuang
dan berkorban, mengerahkan seluruh jiwa dan raganya dikala semua orang
tiada lagi mau berjuang.
Kami
sadar, kami adalah manusia yang penuh dengan dosa, manusia yang tiada
pernah lepas dari kungkungan nafsu, manusia yang tiada pernah jauh dari
jurang kefanaan. Tapi kami berikrar, untuk memperbaiki semua kekurangan
ini sekaligus mengorbankan jiwa dan raga ini untuk tiada berhenti
menapak jejak menebarkan risalah cinta ini, sebagai pembuktian cinta
kami pada-Nya.
Kami berikrar
ketika suatu saat kami ditimpa perkara ada dan tiadanya uang, ada dan
tiadanya kendaraan, bahkan hingga ada dan tiadanya keadaan, tiada ingin
semua itu melunturkan semangat kami, semangat yang dibangkitkan atas
dasar kesadaran ketika zaman mulai menidak-sadarkan manusia yang sedang
terjajah. Berasas keberpihakan pada kebenaran ketika yang lain lupa
bahwa sesungguhnya nafsu, penjajahan nafsu, mengantarkan kita pada
kesesatan yang tiada mampu memisahkan antara kebenaran dan kesalahan itu
sendiri.
***
Hari-hari
berlalu, ujian, cobaan dan rintangan tiada pernah berhenti menghadang
perjalanan juang ini. Begitu banyak suka dan duka menghampiri kisah ini.
Ketika Asma Azizah, terpaksa meninggalkan kami karena kepergiannya
untuk melanjutkan kegiatan
Student Exchange ke Korea Selatan
menyebabkan raga kami dengannya semakin jauh, namun tiada lekas
menjauhkan hati kami dengannya. Hingga hari ini, meski ia di Korea
sekali pun, kami tetap menjaga komunikasi dengannya, tetap berbagi
cerita, tetap berbagi kisah melalui media. Tetap membantu kami,
menyemangati perjuangan ini meski raganya tiadalah sedang dekat di sisi
kami.
Satu persatu, aku mulai
mengetahui ketangkasan dan keberanian teman-temanku di GARDA ini, ketika
dalam perjalanan perjuang ini, kami mulai mengerti hakikat pengorbanan
yang sesungguhnya. Hingga terkadang tiada waktu luang kami memiliki
waktu untuk bersantai-santai seperti orang lain. Memaksakan diri untuk
memotong waktu tidurnya ketika raga dan tubuh ini kian terasa lelah.
Dalam keseharianku pun, terkadang aku dan teman-teman GARDA terpaksa
harus memakai waktu malam untuk berdiskusi, untuk menemui orang hingga
tengah malam karena juang ini. begitu pun yang akhwat, tak jarang mereka
menyedikitkan tidurnya karena harus membantu kami menyelesaikan segala
macam instrumen perjuangan kami hingga tengah malam.
Bukan
hanya malam yang terkadang menyibukkan kami, bahkan terkadang pagi hari
pun, ketika banyak diantara teman kami yang tertidur lelap, ketika
banyak diantara kami yang bergegas membersihkan diri, kami sudah dalam
keadaan berkumpul di singgasana melakukan agenda syuro’ untuk membahas
agenda juang yang harus diselesaikan hari itu jua.
Kami
mulai menggiatkan membaca buku yang tidak boleh lepas dari keseharian,
menggalakkan membaca Al-Qur’an yang harus menjadi keseharian. Membaca
koran untuk mencari informasi kekinian, belajar memaknai kehidupan.
Aku
pun mulai melihat, teman-temanku raganya mulai mengalami perubahan.
Diantara kami, ada yang matanya semakin membengkak akibat kekurangan
istirahat, ada yang mulai mengalami demam akibat terpaksa harus
hujan-hujanan, ada yang mengalami kepala pening, ketika diindikasi
dokter, hal itu terjadi karena terlalu banyak beban pikiran.
Ya,
itulah kami. Sedikitpun kami tidak bangga dengan semua ini, sedikitpun
kami tidak berniat untuk bertakabbur dengan semua ini. kami hanya ingin
menyeru, bahwa kini kami memiliki keinginan agar segala cita ini kan
bangkit, meskipun mungkin cita ini tidak bangkit dari generasi kami.
Kami hanya berharap bahwa perjuangan kami menjadikan secercah harapan
kepada setiap insan yang merasa penuh dosa untuk mulai mencari hakikat
cintaNya dengan penuh pengorbanan, melebihi pengorbanan kami.
Kini,
di GARDA’10, aku mulai memahami persaudaraan yang lebih baik lagi,
menemukan setitik harapan baru dalam berukhuwah ketika aku terpaksa
harus meninggalkan teman-teman KAPMI yang berada di Jakarta, yang selalu
mengajarkanku akan hakikat cinta. Tidak jarang, diantara kami ada yang
menangisi semua ini, ada yang membersamai diriku untuk beribadah bersama
tengah-tengah malam, membangunkanku untuk sahur ketika subuh menjelang,
ketika aku mulai mengetahui bahwa sahabatku mulai mengajarkan semua
itu.
“..Biarlah fitnah dan
ujian itu selalu menghampiri.. Karena sejatinya, semua itu akan menjadi
bumbu penyedap kenang kami di masa yang akan datang.. Biarkanlah kami
melangkah meski semua orang tidaklah melihat langkah kami.. Karena
kepahlawanan itu tidaklah selamanya datang dari suatu gerak yang
terlihat.. karena pahlawan yang hakiki hanyalah mengharap Ridho Illahi..
Biarkanlah kami belajar memahami, memaknai, dan mencari itu semua..”
Di tulis oleh: Fachri Aidulsyah
Yogyakarta,
7 April 2012. Di kala hati sedang merana, dikala panggilan jiwa sedang
membahana untuk lekas menapaki jejak langkah ini menjadi bestari yang
kian langka di permukaan bumi. Entahlah, bisakah aku seperti itu.