.

.

Muhammad : 7

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik [Al-Imran : 110]

As-Shof : 4

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.[As-Shof : 4]

Bergerak atau Tergantikan

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Hidup Mulia atau Mati Syahid

Ketika Kau Lahir di Dunia dengan Tangisan, Dunia Gembira Riang Menyambutmu. Ketika Kau Gugur sebagai Pahlawan, Dunia Mengangisimu, Namun Ruhmu gembira menyambut Syurga-Nya

Kita adalah Penyeru

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik [Al-Imran : 110]

Kamis, 22 Desember 2011

Rahasia Kesuksesan Mahasiswa IPB

Bismillah. . . . .
Mungkin mayoritas mahasiswa sudah tau apa salah satu rahasia orang-orang sukses di IPB, orang-orang yang menjadi legenda di Kampus Hijau tercinta ini,. Aku sendiri menyadari hal ini dari hasil pengamatan dan proses komparasi antar mahasiswa-mahasiswa “terkenal” di IPB, dan setelah ku simpulkan. . . . Subhanallah. . . . The Power is REAL. . . Sebuah kekuatan dahsyat yang ditanamkan kepada mahasiswa sejak pertama kali menginjakkan kaki di Bogor, kekuatan itu tersalurkan dalam sebuah forum islam yang terkenal dengan sebutan Mentoring,. Ya, mentoring-lah yang menurutku menjadi salah satu rahasia kesuksesan. . . Tapi bagaimana bisa?? Yuk kita lihat!!
Tak salah jika IPB mendapat julukan Institut Pesantren Bogor, karena memang suasana keislamannya kental banget,. Dimulai dari SDM-nya, sebagian besar mahasiswanya merupakan kaum yang melek agama, bahkan banyak juga yang basic pendidikan islamnya kuat, misal lulusan pondok pesantren, lulusan SMA islam, dsb,. Dengan kualitas SDM yang demikian otomatis akan tercipta kultur yang islami di dalam kehidupan kampus, nilai-nilai islam benar-benar dijunjung tinggi, bahkan mendapatkan kedudukan tertinggi,. Di sini tak ada lagi cemoohan semacam, “ah sok alim loe!” kenapa? Karena semua mahasiswanya alim-alim, justru mahasiswa yang nggak alim yang pasti akan minder, subhanallah sekali kan?? Beda banget dengan jamanQ di SMA. . . ==”
Lingkungan kampus yang bernuansa islam, tak lepas dari upaya syiar dan dakwah dari LDK Al-Hurriyah (Lembaga Dakwah Kampus) yang bermarkas di Masjid Agung Al-Hurriyah, masjid kebanggaan IPB yang merupakan masjid kampus terbesar ke-2 di Indonesia,. Aku akui, dakwah di kampus ini gencar banget, nggak ada hari tanpa dakwah!! LDK ini berjalan sangat efektif dan menghasilkan output yang fantastis,. Banyak banget kegiatan islam yang diadakan, benar-benar seperti “bom dakwah” bagi mahasiswa baru, mereka pasti akan kaget merasakan kultur ini,. Bagai gayung bersambut, acara-acara LDK Al-Hurr mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi!!
Selain pengaruh di atas, faktor adanya asrama TPB juga sangat menginisiasi,. Di Asrama, benar-banar menjadi kumpulan orang-orang alim, agenda asrama disusun sedemikian rupa sehingga mahasiswa baru “dipaksa” beradaptasi menjadi muslim yang lebih taat daripada keadaan sewaktu masih di rumah atau kampung halaman,. Percaya deh, begitu lulus dari asrama, pasti ada peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah kita, misal yang tadinya jarang baca Al-Qur’an, sekarang mulai rutin tiap hari,. Yang tadinya gag pernah tahajud-an, searang jadi lebih sering, dsb. . . .
Nah, salah satu kegiatan yang diadakan oleh LDK Al-Hurriyah adalah Mentoring,. Tau apa itu mentoring?? Mentoring merupakan kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang diselenggarakan rutin tiap pekan dan berkelanjutan. Tiap kelompok pengajian terdiri atas 3-10 orang, dengan dibimbing oleh seorang pembina. Kegiatan sering disebut juga dengan Dakwah Sistem Langsung (DSL). Bentuk kegiatan dalam kelompoknya sangat fleksibel dan bervariasi, mulai dari kajian bareng, jogging bareng, outbond, sampai nonton bareng,.
Di dalam kelompok kecil ini, selain mendapat segudang ilmu baru tentang islam, kita juga dilatih untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapat,. Tak pernah terlewatkan, selalu ada motivasi-motivasi mujarab yang bisa membakar semangat yang menggelora di dalam dada anak muda untuk selalu berkarya dan berjuang meraih yang terbaik,. So, tak heran setelah mengikuti mentoring ini banyak mahasiswa yang kepribadiannya berubah drastis, yang tadinya pendiam jadi aktif, yang tadinya malas jadi super rajin,. Hal lain yang bisa didapat dari mentoring ini adalah sharing pengalaman, cerita sukses, dan nasihat-nasihat yang sangat membantu,. Asal tau aja, mentor atau pembimbingnya adalah mahasiswa-mahasiswa yang prestatif, ya minimal terkenal oleh banyak orang, dan tentunya berkepribadian semi-ustadz (istilah baru dari penulis),. Semua informasi positif, baik akademik maupun non-akademik bebas dipertukarkarkan di sini, so anggota mentoringnya nggak bakal jadi mahasiswa cupu, karena selalu up to date,. Hebat kan???
Ternyata gag cuma mahasiswanya, para dosen juga mayoritas punya latar belakang keagamaan yang kuat,. Di samping dosen Pend. Agama, dosen-dosen lain pun banyak yang biasa mengisi khutbah di Masjid Al-Hurriyah tiap jumat, artinya jumlah dosen yang peduli dengan dakwah islam cukup banyak, bahkan saya tadi berani bilang “mayoritas”, itu lah uniknya IPB,.
Dari pengamatanku sendiri, ada beberapa karakter yang melekat kuat pada diri seorang alumni mentoring ini, diantaranya :
  1. Visioner, selalu mempunyai targetan yang jelas, berorientasi ke depan,.
  2. Optimisme memuncak, baginya tak ada hal yang tak mungkin dicapai olehnya, walaupun saat itu banyak orang yang meragukan kapasitasnya,.
  3. Sangat efisien dalam memanfaatkan waktu, tak banyak mahasiswa yang bisa seperti ini, mengerjakan banyak agenda atau tugas dengan waktu yang singkat, walaupun kondisinya under-pressure,.
  4. Cinta masjid, ya jelaslah, masjid sudah menjadi seperti rumah sendiri, tempat nongkrongnya sehari-hari dalam waktu senggang,. Sholat apapun seringnya di masjid Al-Hurr, walaupun itu jauh dari tempat kuliah,. Ngaji, belajar, ngerjain laporan, ngobrol, semuanya kebanyakan dilakukan di masjid,. Tak heran Masjid Al-Hurr selalu ramai di setiap waktu,.
  5. Kebiasaannya mencerminkan dakwah,. Mengucapkan salam ketika bertemu, pakaian rapi, “ana” “antum”, menggunakan kata kerja Arab, dan masih banyak lagi,. Jika disuruh memberi ceramah?? Wah segudang materi dia punya untuk disampaikan ke jamaahnya. . . . :D
  6. Aktif berorganisasi, bener2 komitmen untuk organisasi yang diikutinya, kontribusinya luar biasa,.
  7. Kenal banyak orang,. Antara orang-orang ini kebanyakan saling kenal, so pas di masjid tuh sering terjadi sapa-menyapa dan jabat tangan untuk sekedar tanya kabar,.
  8. Solutif,. Di dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang ini selalu bisa memecahkan permasalahan dengan tepat, susah banget lho, kebanyakan dari kita kan kalo ketemu masalah langsung down,.
  9. Mau untuk berbagi,. Jika dimintai nasihat atau saran, pasti dijawab dengan panjang lebar, dan kita sebagai pendengar pasti akan merasa puas dengan jawaban itu, ckckckck,.
  10. Berwibawa,. Ini nih yang bikin keren,. Cara jalan mereka aja udah beda, sepertinya tiap langkah mereka gag ada yang digunakan untuk sia-sia,.
Itulah beberapa yang aku ketahui karakter alumni mentoring yang sukses,. Perlu diketahui juga, bahwa janji Allah berlaku mutlak dan nyata terlihat pada orang-orang ini,. Semua orang tau, kalo kita dekat dengan Allah, maka Allah akan bermurah hati pada kita,. Karena orang-orang ini sangat dekat dengan Allah, keberuntungan dan kesuksesan selalu menyertai langkah mereka, makin hari makin banyak hal luar biasa yang mereka lakukan, benar-banar deh, Allahu Akbar!!!
Jangan salah, aku menulis artikel ini bukannya tanpa bukti, berikut aku sebutkan sejumlah orang-orang yang menjadi objek komparasi pengamatan :
Para Ketua BEM-BEM di IPB, Ketua UKM Forces,.
Lalu Presiden Mahasiswa tahun 2009 Ach. Firman Wahyudi, beliau malah menjadi salah satu mentor,. Achmad Fachrudin, ketua Panitia MPKMB (OSPEK) IPB 2010, juga sebagai mentor,.
Ketua angkatan 46 Fakultas Teknologi Pertanian, Gugi Yogaswara, yang juga mentor, beliau juga anggota Asrama PPSDMS Nurul Fikri (program beasiswa asrama yang hanya ada di 5 PTN terbaik Indonesia).
Mentor saya, Kak Bowo, mantan calon Ketua BEM F-MIPA,.
Mentor saya di Mahasiswa Prestasi, kak Hendra Prasetya, beliau dinobatkan menjadi mahasiswa Berprestasi IPB tahun 2010, dan menyabet gelar juara 2 Mapres nasional,.
Kak Randi Swandaru, namanya bener2 melegenda di IPB, karena tahun 2010 berhasil membawa medali Emas PIMNAS di Malang,.
Kak Danang Ambar Prabowo, beliau merupakan “The Best of The Legends”-nya IPB, juara 1 Mapres nasional tahun 2006, membuat sebuah video inspiratif dan spektakuler tentang keajaiban mimpi,.
Dan yang pasti, kebanyakan mahasiswa yang “go International” adalah alumni mentoring Al-Hurriyah. . . Subhanallah. . . .
Dari uraian di atas, di otakku timbul suatu pemikiran, bahwa kesuksesan mahasiswa IPB bukan lahir di gedung-gedung kuliahnya yang megah, tapi di Masjid Al-Hurriyah yang sejahtera ini. . . Allahu Akbar!!!
Sekian. . . . Semoga menginspirasi. . . . Ka-Chaw!!!
Bogor, 26 Juli 2011

Kamis, 01 Desember 2011

Aktivis Merindukan Rumah.. ? Sudahkah Birul Walidain... ?

"Dimana rumahmu Nak?"

Orang bilang anakku seorang aktivis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.
Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis .Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.
Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini .Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..
Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?
Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?
Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku..
Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?
Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta,ibu,ayah,kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai

Kamis, 24 November 2011

Surat Cinta Untuk Sang Murobbi

Bang..
aku baru saja melangkah dalam gerimis senja melewati rumah yang dulu kau tempati. Rumah papan sederhana, hitam karena asap, dan aku masih ingat kamarmu dibagian belakang tanpa jendela. Basah telapak menapaki lagi jalan itu, sebelum aku duduk menuliskan surat ini untukmu. Dalam senyap malam basah, ingin kukatakan bahwa aku membencimu.

Aku membencimu, karena kau tidak pernah peduli dengan rasa lelahku, kau selalu memaksaku untuk datang ke halaqah, menelponku berkali-kali hanya untuk mengingatkan jadwal. Padahal aku tidak lupa, hanya malas, malas dengan rutinitas mingguan yang sama sekali tidak berpengaruh untuk nilai kuliah ku.
Aku membencimu, karena kau selalu memotong bacaanku disetiap kali giliranku membaca Alquran. Selalu saja ada salahku, qalqalahku yang tidak tepatlah, huruf ‘ain ku yang bunyinya seperti alif, huruf izhar yang kubuat berdengung. Sehingga aku terlihat terbata-bata dan selalu kebagian jatah membaca Alquran paling lama dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Aku terlihat begitu bodoh di depan teman-teman, dan pada akhirnya aku lebih memilih datang terlambat agar bisa melewati sesi membaca Alquran.. Tetapi lagi-lagi kau memarahiku karena aku datang terlambat. Huh.
Aku membencimu, karena kau selalu bertanya tentang amal yaumiku. Untuk apa? Bukankah itu urusanku dengan tuhanku. Cukuplah malaikat saja yang mencatat setiap amalanku, tidak perlu rasanya kau turut terlibat dalam pekerjaan malaikat. Tapi tidak, kau seperti malaikat di dalam kubur, kau tanya shalatku, puasa sunatku, dhuha ku, tahajjud ku dan tentu saja aku lebih banyak menjawab dengan gelengan kepala. Dan push up berkali-kali akan langsung jadi bayarannya. Hah.
Aku membencimu, karena kau selalu menambah tugas-tugas kuliahku dengan memintaku untuk membaca dan meresume buku yang kau rekomendasikan. Membaca buku Fiqh da’wah nya Mustafa masyhur yang begitu tebal. Kitab tafsirnya Ibnu Katsir, Sirah Nabawiyahnya shafiyurrahman al mubarakfury dan belum lagi tugas untuk mengahafal hadist arbain serta juz 30. Itu semua makin mempertinggi tumpukan tugas-tugas yang membebani hari-hariku.
Sungguh aku begitu membencimu, setahun bersamamu, kau membuat hidupku menjadi sempit, tidak boleh membaca komiklah, tidak boleh mendengarkan musiklah, tidak boleh menyanyikan lagu-lagu pop, tidak boleh terlambat shalat, sampai urusan farfumku pun kau permasalahkan. Hah, duniaku semakin kecil jika sudah berada didekatmu, taujihmu akan panjang lebar jika ada satu salah yang kau temui padaku.
Satu tahun berlalu bersamamu dalam kungkungan
Dan sungguh teramat kebencianku padamu, karena kau pergi begitu saja tanpa satu pesanpun untukku. Kau pergi disaat aku ingin untuk berubah, disaat aku ingin memperbaiki bacaan Alquranku bersamamu, kau pergi ketika aku butuh bimbingan yang lebih erat.
Bang..
Gerimis telah runtuh menjadi hujan, ia pun turun dihatiku, menggenangi semua. Meski ku tahu surat ini tidak akan pernah sampai kepadamu, biarlah kuceritakan pada hujan berharap ia akan mengabarkannya kepadamu, bahwa hari ini aku telah banyak berubah. Bukan lagi seperti yang dulu, aku sudah rajin membaca Alquran, tidak lagi telat untuk shalat, bacaankupun bukan lagi komik.. hanya satu yang beda, kau tidak lagi disini. Tidak di lingkaran ini, tidak juga di bumi ini.
Aku rindu taujihmu, aku rindu mendengarkan lagi bacaan Alquranmu, aku rindu menatap mata teduhmu, senyum tulusmu dan curahan ilmu darimu.. Aku pun rindu dengan sepotong roti yang selalu kau berikan disaat kita berbuka puasa, padahal itu bagianmu.
Kau telah lebih dahulu menemui apa yang dijanjikan Allah, diam-diam kau berangkat menuju Surga. aku membencimu, benci yang lebih syahdu dari sekedar cinta.



>>>
kepada yang telah membantu meluruskan jalan hidupku, memperkenalkanku dengan jalan da’wah, menampungku dalam tarbiyah : para murabbi ku.

Posted by rangtalu on 11 Juli 2010

Ini Pilihanku Mana Pilihanmu

Apakah ada dari kamu sekarang yang ngerasa kalo idup tuh nggak asik lagih, karena kamu pada keadaan yang serba nggak enak?
Apakah ada dari kamu yang menilai kalo Allah tuh nggak adil karena ngebuat jalan idup kamu nggak seenak yang laen- laen?
 
Apakah ada dari kamu sekarang yang lagi nggak ngerti gimana jalan keluar dari sesuatu masalah yang buat kamu adalah bener- bener stress ?
Dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya...

Remaja dan masalah, emang seperti ada lem perekat diantara keduanya. Mulai dari krisis pede, bolos sekolah, tawuran, kehamilan tidak dikehendaki dan aborsi, falling in love, broken heart, family and broken home, narkotika, seks bebas, and many more. Sebabnya juga macem- macem, dari mulai dari ortu yang katanya bermasalah, salah milih teman ampe berantem ama sodara bahkan putus asa ama diri sendiri.

Dan... banyak dari beberapa teman kita yang lagi terlibat masalah begituan diatas, yang ternyata pada akhirnya asyik nyalahin siapapun... kecuali dirinya sendiri, saat akhirnya hal yang negatif menimpa dia. Alasannya apa? karena hal itu adalah lebih mudah dilakukan ketimbang harus introspeksi diri dan ngelawan nafsu diri sendiri.

Tapi sayang sekali, hal mudah itu ternyata nggak ngebentuk mereka lebih hebat kecuali hanya sekedar berhenti pada level pengecut. Seorang pengecut adalah yang tidak berani bertanggung jawab atas apa yang telah di perbuatnya. Seorang pengecut juga biasanya tidak terlalu pintar untuk ngerti tentang benar ato salah terhadap apa yang dilakukan, dan jika hal itu suatu hari ternyata membawa masalah bagi dirinya, maka dengan mudahnya dia mencari kambing hitam untuk menerima segala konsekwensi dosa- dosanya.

Teman, sadar nggak sadar, masalah dalam hidup kita sebenarnya kitalah sendiri yang memilihnya. Atau dengan kata lain semua masalah  itu berasal dan dimulai dari diri kamu sendiri loh. Kok bisa? yups begitulah!.

Seandainya kita hidup dalam lingkungan yang jahat sekalipun, Allah masih memberi kita pilihan untuk menjadi jahat ataupun tetap memilih kebaikan. Kalaupun akhirnya kita menjadi jahat, itu adalah karena pilihan kita, sekalipun memang ada sumbangan dari orang lain yang bernama pengaruh. Nah salahnya kita, kita dengan tangan terbuka menerima dan memilih pengaruh jahat itu untuk kita lakukan.

Trus kalo ada yang bilang sangat sulit untuk memilih tetap menjadi baik dalam lingkungan seperti itu. Ya Allah, Allah terlalu penyayang teman, untuk nggak nolong kita yang jelas- jelas pengen berbuat kebaikan.

So, Selalu akan ada pilihan tentang kebaikan dalam lingkungan atau keadaan yang jahat dan nggak enak sekalipun. Jadi mulai sekarang, berhati- hatilah terhadap pilihanmu dan pilihan sikapmu, dan kalau kamu sudah memilih, bertanggung jawablah atas apapun pilihanmu itu.

Dan buat kamu yang ternyata dulu nggak sadar telah memilih pilihan yang salah, sehingga kamu sekarang ada pada keadaan yang terpuruk, maka jangan putus asa kawan.

Dalam keadaan apapun kamu sekarang, kamu adalah berharga dan masih tetap berharga, walau mungkin susah banget buat kamu buat ngehargain diri kamu sendiri. Kalo kamu marah sama keadaan, ya jangan cuma sampai disitu ajah. Marah en protes nggak bakal ngebawa efek apapun kecuali makin tambah ribet dah urusan kamu nanti. Pecahkan masalah itu dan jadilah pemenang. Paling nggak pemenang atas kemalasan diri kamu sendiri untuk jadi seorang pemenang.

Guys, menjadi remaja adalah sesuatu yang natural dan manusiawi, toh semua manusia pasti berproses dan bakal ngelewatin semua itu. Tapi jadi remaja yang dewasa yang berpikir dan bertindak lebih dari dari kualitas seorang remaja kebanyakan itulah yang bakal ngebuat kamu lebih.

So, perbaikin pola pikir kamu dalam melihat sesuatu, selalu lihat pada sisi yang positif tentunya, termasuk pada sesulit apapun keadaan yang lagi kamu alamin sekarang. Karena waktu akan terus berjalan teman, nggak perduli kamu siap ato tidak. Kalo kenyataannnya kamu benar- benar ga siap, ya kamu bakal ketinggalan sama yang laen. Dan sebagai seorang yang pintar en cerdas, tentunya nggak pantas juga kalo kita bangga pas ngeliat diri sendiri ternyata dah jauh banget tertinggal dalam banyak hal dari pada yang laen.

Kalo kata orang, remaja emang identik dengan labil dan kurang pengalaman dalam menyikapi sesuatu, yups setuju banget. Tapi nggak ada satupun aturan kan, yang melarang seorang remaja untuk menjadi stabil dan berpengalaman, dan atau mencari pengetahuan yang lebih untuk menjadi lebih stabil dan lebih berpengalaman?.

Semua tergantung pintarnya kamu dan kuatnya keinginan kamu dalam mengolah masalah itu sendiri agar terpecahkan atau bahkan terasa menjadi menyenangkan.

Maka dari itu teman, cepet deh buru- buru cut itu perasaan nggak enak dan sikap yang sibuk nyalahin orang lain sehingga kamu punya alasan buat nyiksa diri dengan berbagai hal negatif yang bakal mangkas kemampuan kamu buat maju. Sadarin, kalo idup emang kumpulan dari berbagai masalah yang menempa kamu agar lebih jadi dewasa dan nggak manja. Simplenya gini, Kalo nggak ketemu masalah, ya nggak bakal manusia itu idup.

Dan kalo urusannya adalah kamu merasa nggak ada lagi yang ngedukung kamu alias kamu ngerasa selalu sendirian saat kudu berhadapan dengan masalah yang udah sangat berat banget menurut kamu, ingat aja satu hal teman.. kamu masih punya Allah dan akan selalu punya Allah, selama kamu merasa dan mau berdekatan dengan Allah. Semua tergantung diri kamu sendiri.

Dan kamu akan berarah kemana dan seperti apa skenario idup kamu selanjutnya, semua bakal di mulai dari pilihan pilihan idup kamu sekarang ini,

Jadi sekali lagi,  berhati- hatilah terhadap pilihanmu, dan kalau sudah memilih, bertanggung jawablah atas apapun pilihanmu itu.
Dan buat pilihan terbaikmu sekarang, dan lakukan !

(NayMa/Voa-Islam.com)

10 November Bukan Sekedar Dikenang

Setiap 10 November bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Dalam bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa para pahlawan, sejenak bangsa Indonesia mengheningkan cipta diberbagai sekolah, kantor instunsi pemerintahan dan tempat-tempat lain. Namun tidak banyak pula teman-teman kita yang sampai hari ini kurang menyadari atas jasa para pahlawan, dan jarang sekali yang mengambil hikmah serta ketauladanan para pahlawan.

Andai Pahlawan itu bisa melihat zaman ini
Terbenak pertanyaan, apabila pahlawan-pahlawan kita yang merebut kemerdekaan atas pengorbanan harta dan jiwanya melihat kondisi generasi-generasinya saat ini? Mungkin kah ia mengais, apa mungkin  ia berbangga hati?, atau mungkin ia sama sekali tak ingin melihat. Sahabarohis, realitanya saat ini memang sangat berbeda dengan zaman dimana para pahlawan mengorbankan segala jiwa dan raganya dalam membela Agama, dan Negara. Kalau dulu Ust. Jenderal Soedirman bersikeras mempertahankan amanahnya, walau dirundung sakitnya namun ia tetap melaksanakan tugas sebagai Jenderal perang bangsa Indonesia. Berbeda dengan saat ini, banyak temen-temen kita, sakit dikit gak masuk sekolah, sakit dikit gak mau ikut rapat rohis, dan menjadikan sakit sebagai alasan untuk mengamankan posisi santainya. Dan sudah menjadi hal yag sangat biasa melihat kondisi generasi muda manja diberbagai sekolah.

Bukan hanya manja, gaya hidup kebarat-barat pun menjadi pedoman. Terus timbul dah pamer-pamer harta, pilih-pilih temen ngegosip gak jelas percis banget saa lirik tim Nasyid Justice Voice yang berjudul ABEGE. Terus gimana seharusnya generasi bangsa ini menghormati para jasa pahlawan.

1. Tularkanlah semangat pantang menyerah pahlawan,
Semangat pantang menyerah ini sangat dibutuhkan, sebab kunci sebuah harapan adalah semangat. Semnagt untuk lebih baik, semangat untuk sholat tepat waktu, semangat puasa sunnah, semangat qiyamulail. Dan tularkanlah semangat para pahlawan untuk kehidupan kita.

2.Berpegang teguh kepada Allah
Keistiqomahan para pahlawan ketika merampas kemerdekaan dari tangan penjajah belanda, sungguh harus kita contohkan. KH. Hasyim Ashari pendiri NU contohnya, walaupun bliau sangat kompeten untuk memegang amanah sebagai presiden RI. Namun ia tetap kekeh dengan pendiriannya untuk tidak patuh terhadap jepang. Karena patuh terhadap jepang, tandanya sudah keluar dari islam, itu prinsip yang ia pegang. Sahabatrohis, belajarlah dari sosok pahlawan satu ini,karena hakekat hari sumpah pemuda bukanlah hanya sekedar dikenang.

3. Mau berkorban
Kalo cinta apapun makanannya manis rasanya, begitulah yang dirasakan oleh para pahlawn-pahlawan kita. Atas dasar cinta mereka korban segala apa yang mereka bisa lakukan untuk Islam, untuk negara dan anak cucu nya. Maka tidak lumrah jika, pengorbanan adalah bukti cinta kita kepada Allah, pengorbanan adakah bukti bahwa kita benar-benar ingin mendapat perhatian dari Allah. Begitupun kita seharusnya, bagaimana pengorbanan para pahlawan-pahlawan ini bisa kita contohkan di kehidupan. ROHIS misalnya, bagaimana menyita waktu banyak untuk melaksanakan program kerja ROHIS. Ataupun acara-acara yang banyak manafaatnya untuk orang lain yang tentu memakan waktu kita begitu banyak. Bukan hanya waktu mungkin juga pikiran, bahkan sebagian rizki kita. Maka sungguh tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan yang kita dapatkan. Percayalah sahabat :)

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2011

Kamis, 01 September 2011

Saya Mau Keluar dari Jalan Ini Saja!!!

Ustadz, dulu ana merasa semangat dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.


Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.


“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti, kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja..." jawab mad'u itu.


Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.


"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?" tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.


Sang mad'u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.


"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?" sang murabbi mencoba memberi opsi.


"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.


Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.


“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.


"Bagaimana bila temyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?" tanya sang murabbi lagi.


Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.


Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."


"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.


Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."


"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."


"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.


"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."


"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"


Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.


"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.


"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!" sahut sang murabbi.


"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil (dengki, benci, iri hati) antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya."


Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya.


Malam itu, sang mad'u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang diharapkan dari Antum/antunna yang membaca tulisan ini.. Insya Allah kita tetap istiqamah di jalan dakwah ini.. Dalam samudera tarbiyah ini..


Wallahu a'lam.


sumber: Majalah Al-Izzah, No. 07/Th.4 (dengan perubahan seperlunya)

Kamis, 04 Agustus 2011

Inspirasi Pelajar Indonesia.. Tak Malu Untuk Kesuksesan..

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--"Maaf, Mas, jam 4 aku harus ngajar TPA," katanya membuka percakapan. Dia terlihat lelah dan pucat. Memarkir sepedanya di halaman kantor Dompet Dhuafa Yogyakarta, gadis itu masih terengah-engah. "Mau minum?" saya menawarkan. "Terima kasih, saya sedang puasa sunnah Senin," jawabnya cepat. Hebat, batin saya. Perlahan dia menaruh tas gendongnya di kursi dan mulai bicara.


Gadis di depan saya adalah Sri Suryani. Dia baru 16 tahun dan saat ini sedang bersekolah di salah satu SMA favorit di Yogya. Di sekolah dia masuk 10 besar. Yanni, berbeda dengan anak seusianya yang sebagian besar masih asyik bersenang-senang menikmati masa remaja. Di usia remaja dia terpaksa menjadi tulang punggung dan kepala keluarga sejak 2008.


“Tahun 2006 ibu saya, Wiji Lestari, meninggal mendadak di usia 39 tahun, tanpa sebab apa-apa. Saya masih kelas 2 SMP. Saat itu saya sedang mengajar di TPA sore-sore dan tahu-tahu dikabari bahwa Ibu sudah nggak ada. Tahun 2008, bapak saya, Mujiwal (49), terkena stroke. Pekerjaannya sehari-hari sebagai buruh bangunan berhenti,” tuturnya lugas, seolah semua itu bukan masalah yang besar.


Sejak itu, Yanni seketika merangkap jadi kepala keluarga, membiayai dirinya berikut ayah dan Nugroho, adiknya yang masih SD. Untuk membiayai sekolahnya, dia berakit-rakit dari satu beasiswa ke beasiswa yang lain. Salah satunya dari Dompet Dhuafa Yogya, karena sebelumnya dia dibantu oleh BMT Beringharjo yang merupakan mitra DD Yogya. Beasiswa ini dia gunakan untuk membiayai sekolahnya.


Setiap hari Yanni berangkat ke sekolah dari rumahnya di Kampung Bangunrejo, Kelurahan Kricak, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta dengan sepeda. Selepas sekolah, dia mengajari adiknya menyelesaikan PR dan segera berangkat lagi mengajar TPA dan ke tempat privat sampai malam. Honornya relatif, rata-rata Rp 400 ribu sebulan kalau ditotal. Di dusun kecil itu, Yanni hanya tinggal bertiga, keluarga besar orang tuanya berada di Klaten.


"Saya tidak mau merepotkan dan menjadi beban bagi keluarga besar," katanya. Lalu kapan belajarnya? "Saya belajar setiap habis salat tahajud, jam 3 sampai jam 5. Setelah itu ya resik-resik dan menyiapkan kebutuhan Ayah dan adik," tuturnya. Dia mengaku walaupun hanya 2 jam belajar, sudah cukup untuk memahami materi. Hasilnya, pada setiap ujian semester, nilainya cukup memuaskan.


Ketika ditanya bagaimana reaksi teman-temannya dengan kondisinya, Yanni menjawab diplomatis, "Kalau mereka `kan kebanyakan kondisinya ideal, jadi tinggal belajar tok! Saya tetap berhubungan dengan baik dan menerima ajakan mereka selama tidak mengganggu amanah saya.” Selepas SMA tahun depan, cita-citanya hanya satu, masuk Fakultas Kedokteran UGM, menjadi dokter dan berkarya di bidang kesehatan. “Bismillah, semoga Allah meridai. Saya ingin jadi direktur sebuah rumah sakit gratis untuk orang miskin berskala internasional,” katanya berharap. Yanni mengaku sering membaca di koran, banyak keluarga miskin ditolak masuk rumah sakit karena jatah Jamkesmas habis.


“Itu yang salah siapa? Pemerintah atau siapa, saya ingin menolong mereka,” ucapnya menerawang. Cita-citanya untuk kuliah di Yogya bukan tanpa alasan. Ayah dan adiknya sangat butuh perhatiannya. Yanni sendiri sangat berharap, bisa membawa ayahnya ke rumah sakit mengobati stroke-nya, agar ayah nya bisa pulih kembali seperti sedia kala. Walaupun belum tahu bagaimana dia akan meraih cita-citanya, namun setidaknya Yanni sudah memiliki semangat baja dan mental tangguh yang jarang dimiliki bahkan oleh orang dewasa sekali pun.


Redaktur: irf
Reporter: akh

Iklan

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites